Menuju Mandiri Energi & Pangan: Kala Limbah Menghemat Rupiah

Tempias.com, JAKARTA – Api biru menyala saat Erna Warga RT 02 RW 07 Kedungasem Wolasih Kota Probolinggo memutar knob kompor gas satu tungku saat Tempias.com mampir ke dapurnya siang itu, 31 Agustus 2022. Dengan cekatan ia mengangkat wajan ke atasnya. Yang menarik, tidak ada tabung gas yang menjadi sumber utama energi yang biasa dipakai untuk kompor gas. 

“Ini gasnya dari limbah tahu. Jadi kami tidak pakai gas LPG untuk masak harian,” ujar Erna. 

Sudah beberapa tahun terakhir perempuan paruh baya itu mengaku tak lagi bergantung pada gas LPG. Biasanya ia hanya menggunakan gas  dari perusahaan milik negara itu hanya untuk keperluan membuat kue. Sedangkan untuk kebutuhan harian ia menggunakan biogas dari limbah produksi pabrik tahu Proma yang ada di dekat rumahnya. 

Sejak menggunakan gas dari limbah tahu, Erna mengatakan bisa berhemat dari pembelian gas. Ia hanya perlu membayar iuran Rp 15 ribu setiap bulan untuk pemakaian sepuasnya. Padahal bila menggunakan LPG ia bisa menghabiskan sampai dua tabung gas LPG 3 kilogram yang harus merogoh kocek hingga Rp 50 ribu setiap bulan. Ketika harga LPG naik, ia tidak ikut panik. 

 

Pengolahan Limbah pabrik Tahu
Pemanfaatan limbah dari pabrik tahu Proma di Kota Probolinggo menjadi biogas.

 

Pabrik Tahu Proma merupakan UMKM skala mikro yang dikembangkan H Siddiq. Sejak 2015, ia mulai mengembangkan pengelolaan limbah tahu untuk dijadikan biogas. Usaha ini menjadi ikhtiar untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah produksi tahu yang ia lakoni. 

“Dulu memang ada yang protes dengan limbah kami. Lalu diupayakan untuk diperbaiki tetapi gagal,” ujar Siddiq. 

Lewat kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2015 dimulailah pengolahan limbah menjadi biogas. Hasilnya, gas metan yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk menjadi biogas pendukung kebutuhan rumah tangga. 

Setiap limbah yang bersumber dari produksi tahu kemudian dialirkan ke sumur pengolahan hingga kemudian menghasilkan gas metan. Gas inilah yang dialirkan ke rumah warga melalui instalasi pipa. 

Menurut Siddiq saat produksi tahu masih banyak, sebelum pandemi terdapat 45 rumah tangga yang memanfaatkan biogas dari pabrik tahu  Proma. Seiring pengurangan produksi akibat pandemi kini rumah tangga pengguna biogas turun menjadi 25. 

Tenaga Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo, Aricandra Nurkholishari yang hari ini mendampingi mengatakan terdapat 7 IKM di Kota Probolinggo yang merupakan industri tahu. Inovasi dalam membangun instalasi biogas limbah tahu (BIOLITA) menjadi solusi untuk mencegah pencemaran sungai. 

 

BACA JUGA: Mengintip Geliat Probolinggo Wujudkan Kota Bebas Sampah

 

Petik Sendiri

Perjalanan Tempias.com  ke Kota Probolinggo bersama tim Local Governments for Sustainability atau ICLEI dan WWF Indonesia akhir Agustus lalu tak hanya melihat ketahanan energi digaungkan. Hal lain yang tak kalah berkesan adalah upaya masyarakat dan pemerintah menghadirkan ketahanan pangan. 

Suasana asri dan hijau dengan berbagai tanaman sayur dan palawija menyambut kami saat tiba di Kampung Iklim RW 1 Pilang. Ibu-ibu terlihat bersemangat menceritakan aktivitas mereka membibit dan bertanam aneka sayuran. Ada kebun sayur yang dijaga dan dirawat bersama. 

“Setiap hari para ibu di RT ini bergantian untuk merawat tanaman. Ada petugas piketnya, dan biasanya kalau minggu sama-sama berkegiatan di sini,” jelas Ika Sulystiowati, warga sekaligus penggerak rumah bibit kampung proklim RW 1 Pilang. 

Menurut Ika, hal yang membuat ia bersemangat melakukan penghijauan karena sudah merasakan banyak manfaat. Selain udara menjadi lebih segar, kebutuhan sayur masyarakat pun bisa dipenuhi dari produksi di kebun warga. 

“Kalau ada yang butuh cabe atau sayur bisa ambil ke kebun warga,” ujarnya. 

Tak hanya membuat rumah bibit, Ketua Proklim RW 1 Pilang Lukman Hakim mengatakan warga juga bersama melakukan pengolahan sampah dengan membuat kompos mandiri. Juga ada pembuatan lubang biopori  Selain  mengurangi sampah organik, lubang biopori juga bisa membantu resapan air sehingga mencegah terjadinya banjir. 

 

Aktivitas Warga Proklim RW 1 Pilang
Aktivitas Warga Proklim RW 1 Pilang

 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Rachmadeta Antariksa mengatakan berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah kota untuk menurunkan emisi rumah kaca. Kegiatan itu dilakukan sesuai dengan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim Kota Probolinggo dengan Peraturan Walikota Probolinggo Nomor 37 Tahun 2013. 

“Pemerintah Kota Probolinggo telah merumuskan berbagai kegiatan mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung yang meliputi sektor transportasi, energi, tutupan lahan, pengelolaan limbah dan lain sebagainya dengan melibatkan beberapa OPD yang terkait,” ujar Deta. 

Kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga dikemas dalam beberapa kegiatan utama dan pendukung di seperti Program Kelurahan Berseri dan Program Kampung Iklim. ProKlim merupakan salah satu program pengendalian perubahan iklim yang langsung menyentuh masyarakat. Hingga akhir 2021 terdapat 9 wilayah Proklim di Kota Probolinggo yang dapat sertifikat dan penghargaan Kampung Proklim dari Kementerian Lingkungan Hidup. 

Beberapa inovasi dalam pengembangan proklim di Kota Probolinggo adalah pelaksanaan kegiatan wisata edukasi program kampung iklim atau dikenal dengan Sate Paklim. Selain itu juga ada program Aksi Mitigasi Adaptasi Perubahan Iklim dengan Gerakan Arisan Perbanyak Biopori atau dikenal dengan Simak Ngebor. 

Saat ini, kegiatan Simak Ngebor di Kota Probolinggo telah menghadirkan 474 titik lubang biopori yang tersebar di berbagai wilayah kota. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam aksi mitigasi adaptasi perubahan iklim di lingkungan masing-masing.

“Di Kota Probolinggo kesadaran warga akan pentingnya adaptasi perubahan iklim sudah terbina lewat proklim, Harapannya bisa menular ke daerah-daerah lain sehingga bumi menjadi lebih lestari,” ujar Deta. (Ira Guslina) 

Ira Guslina

Editor In Chief Tempias.com Hubungi saya di guslina@tempias.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@tempias.com .