Dirut Indo Oil (IDX: OILS) Johan Widakdo: Kami on the Track Raih Pertumbuhan

 

Di pasar  internasional, Indonesia menjadi  supplier minyak kelapa dan kopra kedua terbesar di dunia.

***

 

Tempias.com, JAKARTA- Menjadi perusahaan minyak kelapa pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia, menjadi modal PT Indo Oil Perkasa Tbk (IDX:OILS) merebut hati investor. Saat akan melantai di bursa, saham OILS oversubscribed hingga 28 kali. 

Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 September 2021 harga saham OILS telah naik 7,14 persen dibanding harga saat pertama kali diperdagangkan pada 9 September 2021. Saat IPO harga saham OILS dilepas pada Rp 270. 

Lalu bagaimana kisah di balik IPO Indo Oil Perkasa? Apa tantangan dan target yang ingin dicapai dari industri minyak kelapa? Simak wawancara khusus  Tim Tempias.com dengan Direktur Utama Indo Oil Perkasa, Johan Widakdo Liem  berikut ini.

Bagaimana awalnya Anda bisa tertarik mengembangkan bisnis minyak kelapa? 

Saya mulai terjun di dunia minyak kelapa ini mulai 2011. Jadi pertama saya kerja sebagai trader dulu, jual beli kopra sama minyak kelapa. Nah 2015 tepatnya karena sudah ada pengalaman, saya mau meningkat menambah nilai, sehingga  mau buat pabriknya sendiri. 

Apakah saat itu Anda ikut perusahaan keluarga?

Saya trader sendiri. Lalu saat merasa sudah punya skill dan punya pengalaman dan pengetahuan, pada 2016 saya putuskan untuk membuat pabrik minyak dengan dukungan keluarga supaya ada nilai tambah. Itulah cikal bakal adanya OILS Perkasa. 

Apa yang membuat Anda optimistis saat mendirikan OIL di tengah ekspansi minyak sawit yang begitu masif?

Kami percaya minyak kelapa ini ga mungkin mati. Apalagi minyak kelapa potensinya sangat besar. Ditambah saya punya pengalaman di industri minyak kelapa setelah ikut dengan adik ibu saya di pabrik minyak kelapa kecil di Pandeglang, Banten. Saya ikut di sana sebelum jadi trader. Pabrik di pandeglang kecil, belum ekspor dan skala home industri. 

Saya yakin karena di satu sisi ada challenging bahwa kelapa ini komoditi sehingga tidak menggunakan fix price sehingga harus pintar melihat harga. Kalau fix price kan enak, kita beli 1 harga satu dan kita bisa hitung dengan mudah. Challenge di minyak kelapa ini karena di situ ada statistik, mempelajari supply and demand, dan itu sesuatu yang menarik menurut saya. Selain itu juga ada interaksi antara pembeli dan penjual. Sesuatu yang terus bergerak. Jadi setelah sekitar 3 bulan ikut adik ibu saya mulai menjadi trader.

Kenapa Anda lebih memilih hanya fokus pada kelapa saja?

Saya waktu itu memang ingin fokusnya main di kelapa, dan tidak mencoba yang lain. Waktu pertama belajar kami beli kelapa basah lalu dikeringkan sendiri. Terus baru dijual ke pabrik minyak yang ada di jakarta, Surabaya dan Palembang. 

Saat mulai trader saya sudah punya gudang dan ambil barang dari gudang di Lampung. Gudang ini jadi basecamp sementara kita beli kopranya dari petani dan koperasi yang sudah dikumpulkan lalu dijual. Dari situ saya mulai belajar banyak. Saat merasa sudah punya cukup basic dan raw materialnya baru saya coba ke minyaknya. Prosesnya panjang dan saat itu saya masih coba untuk trader di lokal saja dan belum ada orientasi ekspor. 

Saat mulai mendirikan Indo Oil, apa hal yang paling menjadi perhatian Anda?

Setelah trading dan belajar banyak, kami mulai mencari tempat yang bagus untuk supply chance. Waktu itu pilihannya di bawah pohon atau di hubnya di Indonesia Timur. Saya dari Surabaya, dan saya pikir-pikir kalau di bawah pohon maka kelapa yang didapatkan dari daerah itu aja. Misal kalau kita ada kekurangan atau mau ekspansi lebih besar lagi saya tidak akan dapat kelapa dari daerah lain. 

Misalnya kalau saya buka hub di Sulawesi maka tidak mungkin dapat kelapa yang dari NTT, Ambon karena logistiknya tidak nyambung. Akhirnya saya buat di Surabaya karena logistiknya semua nyambung  dari Surabaya. Kami putuskan Surabaya paling bagus tempatnya dan kebetulan kami lihat di Jawa Timur saat itu juga ada beberapa pabrik minyak. 

 

BACA JUGA: IPO Indo Oil Perkasa (IDX: OILS) Incar Rp 45 Miliar, Begini Prospek dan Bidang Usahanya

 

Apa yang melatari Anda memilih lokasi di Mojokerto?

Saya pilih Mojokerto karena kami sudah punya banyak tanah luas di sana. Dari sisi jarak ke pelabuhan tidak terlalu jauh sekitar 35 kilometer dan connected to toll semua. Jadi meski idealnya lebih dekat ke pelabuhan tapi karena kami punya tanah di Mojokerto ya sudah. Kami tidak punya kebun kelapa di Mojokerto tapi kami beli. Dari Lampung kita ada supplier, dari Lahat ada, dari Bangka Belitung, Sampit Kalimantan, Palu, Gorontalo, Toli-toli, dari Halmahera, NTT, dan Lombok.  

Sejak proses berdirinya OILS pada  2016 apa saja tantangan yang dihadapi? 

Pada 2016 itu saat pertama berdiri saya ada cita-cita untuk ekspor. Anak buah saya laporan saat kami mengirim minyak ke pabrik lain mereka melihat minyak dari kami dikeluarkan dari tangki lalu dimasukkan ke kontainer. Jadi satu ngisi satu ngeluarin. Anak buah saya bilang: “Bos itu minyak kita, dibuat sama kita lalu dijual atas nama orang lain. Kenapa tidak kita sendiri yang ekspor?”

Nah itu challenge saya yang pertama sehingga kami mulai ekspor. Saat pertama ekspor saya tak kenal siapa-siapa. Saya pemain baru. Apalagi waktu itu saya masih 30-an sehingga yang sudah adalah cari channel ekspor. Kemudian saya terbang ke Singapura, dan ketemu orang yang saya ga tahu orangnya. Tapi untungnya orang yang ditemui baik,, mau ngajarin, mau ngasih solusi. Jadi kalau main di ekspor harus gerak cepat. . 

Pertama ekspor itu satu kontainer, dan isi nya minyak kelapa semua, Yang saya tahu awalnya mereka ekspor lalu saya ikut ekspor. Ternyata ya benar harganya lebih bagus selisih bisa 2 persen. Akhirnya kami serius menjalani. Satu container 20 ton dan harga saat ini 1 kilo sekitar Rp 20 ribu.  

Setelah pengalaman pertama yang kedua jadi lebih mudah dan sampai sekarang masih lanjut ekspor. Sekarang kami jadi lebih mudah karena sudah punya pengalaman dan kami bisa melihat celahnya. 

Bagaimana Anda melihat persaingan ekspor minyak kelapa di luar negeri? 

Saat kami ekspor itu yang borong banyak salah satunya Wilmar group yang merupakan integrated holding. Tahun ini kami banyak menjual untuk lokal dan sekarang satu minggu bisa 10 container. Sedangkan sebelum pandemi satu minggunya bisa sampai 25 container. 

Persaingan usaha di tingkat global itu pasti ada, tapi kami anggap mereka semua mitra. Di industri minyak kelapa ini kami bisa lihat yang penting bisa beli dan jual. Yang penting kita bisa diterima. 

 

Jadwal IPO OILS
Suasana Pabrik Indo Oil Perkasa

 

Apakah saat ini OILS sudah punya kebun kelapa sendiri? 

Kami masih beli saja, dan belum ada rencana punya kebun. Ke depannya memang ada rencana kerjasama dengan pemilik kebun untuk pembelian langsung. Di Indonesia kan pemain dan pembuat kopra banyak. Nah dengan kami fokus menjual maka kami bisa memutus mata rantai pasok sehingga petani yang terima hasil lebih bagus.

Adakah standar yang perusahaan Anda tetapkan saat membeli minyak kelapa dari petani? 

Untuk kopra untuk standar bukan sesuatu yang baku dan agak abu-abu. Jadi untuk supplier kami biasanya dibicarakan pada supplier dan kami beri edukasi tentang standar kopra yang bagus dan bisa diterima. Kalau mereka happy dan mau berubah ya kita welcome, tapi kalau mereka nolak ya kami welcome juga. Yang penting ada kecocokan.

Kalau barang jelek ya kita minta diskon potong harga. Untuk minyaknya nanti kami mixing semua, dan kami pisahkan semua hasil produksi sesuai hasil. Kalau agak merah dan agak asam dipisahkan. 

Bagaimana dengan ekspansi ke luar negeri, Apa yang memotivasi Anda untuk mulai merambah pasar global?

Saya kenalan trader di dunia minyak goreng setelah ikut konferensi minyak kelapa di Malaysia pada 2018. Saya kenalan trader dari Singapura, dia yang transaksi ke China dan saya cuma jual ke dia. Itu tahun 2019. Terus yang srilangka saya juga kenal di Malaysia, tapi kita ga pernah hubungan.

Pada 2018 dia pernah coba sekali minta ke kami, tapi karena saat itu kami belum punya teknologi untuk memenuhi spek pesanan minyak dari perusahaan Srilangka ini kami sempat delay 2 bulan. Dia marah-marah dan saya bilang tetap akan memenuhi pesanan dan dengan memberi harga diskon. Setelah itu tidak ada hubungan lagi. 

Setelah kejadian itu kami mulai cari tahu bagaimana cara meningkatkan kualitas. Kami ubah properti dan coba tingkatkan kualitas minyak dengan teknologi tanpa kilang karena kami tidak punya kilang. Akhirnya kita berhasil mengubah kualitas minyak jadi lebih baik, jadi lebih putih dan tingkat asamnya berkurang. 

 

BACA JUGA: IPO Ace Oldfields (IDX: KUAS), Simak 10 Hal Penting untuk Calon Investor

 

Di industri kopra sudah banyak pemain lama, bagaimana Anda bersaing memenangkan hati petani melawan para pemain lama ini?

Kami sebenarnya dari segi harga dengan pemain lain itu tidak beda jauh. Yang membedakan kami ke petani adalah supply chainnya. Selama ini kalau petani mau jual ke pabrik biasanya ada 5 supply chain. Kalau petani mau jual ke Surabaya saja misalnya itu akan kesulitan dari segi hire orang untuk bongkar kontainer. Harus ada bongkar muat itu kan butuh biaya.Kalau untuk kopra strateginya kita langsung beli dari petani atau koperasi. 

Nah kalau ke kami, semua bisa dibantu dan free of charge. Semua kami yang urus, pokoknya container penuh berangkat  kami urus sampai beres di. Dengan begitu maka kami akan potong rantai pasok. Ini untuk petani kecil dan petani desa akan sangat membantu. Meski kami juga punya supplier dari pedagang besar dan kami selalu upayakan kemudahan. 

Dengan model ini bagaimana dengan kepastian bahan baku dan harga yang bergantung pada pasar?

Kami selalu punya buffer stock sehingga kalau harga gejolak sedikit kami tidak terlalu ngefek. Kami selalu takut itu kalau logistik berat seperti ombak tinggi dan ombak besar. Supplier kami banyak dari pulau-pulau kecil sehingga saat mereka akan ke pelabuhan besar perlu kapal. Kalau ombak tinggi mereka terhenti. Makanya kalau mau Desember atau mau musim hujan itu kami genjot stock supaya tetap terjaga pasokan. 

Stok untuk berapa lama?  

Biasanya kami punya buffer stock untuk 10 hari. Kalau sudah mau Desember atau musim hujan kami naikkan jadi 15 – 20 hari. Setelah IPO ini kami rencana mau naikkan buffer stock menjadi 30 hari. 

Saat ini kami ubah sistem penyimpanan. Jadi selama ini kami menyimpan kopra dalam bentuk karungan dan ditumpuk sehingga tidak efisien karena karung banyak rongga kosong. Jadi sekarang kami ubah sistemnya. Kopra yang datang itu kami hancurkan dan masukin ke silo sehingga kapasitas bisa double. Penyimpanan tetap memakai gudag yang sudah ada, hanya karena sekarang bentuknya silo jadi kita ubah dalamnya. Kepastian bisnis tetap jalan dengan adanya buffer sistem. 

 

Market share Indo Oil Perkasa
Market share Indo Oil Perkasa

 

Kapan Anda mulai berpikir untuk IPO?

Waktu 2018 saya sempat bilang ke orang tua saya, ini perusahaan mau di=IPO kan. Lalu dibilang kamu ngaco, kamu mimpi ya, kamu ga usah mimpi deh. Sampai akhirnya pada saat pencet bell IPO pada awal September 2021  baru keluarga tersadar, ternyata kami benar-benar sudah IPO.  

Kalau saya sendiri sejak awal tetap optimistis walau keluarga pesimistis Saya melihat ada potensi karena kami growth terus. Dua tahun terakhir saya mulai coba tanya-tanya mengenai IPO. dan akhirnya kami dapat gambaran dan mulai proses.

Sebagai perusahaan crude coconut oil (CCO) pertama yang melantai di bursa, apa ekspektasi Anda?

Ekspektasi dengan adanya kami sebagai perusahaan IPO ya kami harus memperbaiki diri. Kami merasa masih banyak yang kurang. Kami terus memperbaiki diri dan karena adanya IPO kami punya alasan untuk growth lebih cepat. 

Saya sudah kasih tahu ke tim bagaimana caranya kami meningkatkan dari segala hal, mulai dari penerimaan barang, quality control, barang keluar, customer service, jangan pernah kendor. IPO ini kan pintu pertama untuk menjadi perusahaan besar. Nah kalau pintunya sudah dibuka kan tinggal bagaimana menjalankan.

Hal apa yang difokuskan menjelang IPO? 

Ya apa yang kami jalankan selama ini, penjualan kami dorong, dari penermaan barang, pengawasan barang. Semua kami tingkatkan. Kami cari terus customer baru, dan kami jaga semua proses sesuai dengan SOP dan standar perusahaan. 

Adakah hal yang berubah setelah melantai di bursa?

Lebih banyak orang yang ngajak kerjasama, lebih banyak klien. Jadi orang lebih percaya pada kami sekarang. 

 

BACA JUGA: Menimbang Saham Multistrada (IDX: MASA), Antara Top Gainers, Delisting dan Capaian Kinerja

 

Bagaimana Anda melihat prospek industri minyak kelapa?

Prospeknya masih besar. Kalau bicara industri kelapa itu di mana ada pantai di situ ada kelapa. Intinya hanya satu bagaimana menerapkan teknologi dan bagaimana menerapkan supply change yang bagus, insentif petani dan harga terus dijaga sehingga industri sangat maju. Saat ini karena sawit lebih maju jadi pemerintah melihhatnya lebih ke sana, kelapa belum seberapa. Kemarin kami dengar Pak Jokowi bilang minyak kelapa mau jadi avtur ya mari lihat saja nanti ini maunya seperti apa. 

Di dunia internasional saat ini Indonesia supplier kedua terbesar di dunia. Jadi kalau bicara persaingan saat ini yang terdekat ya Filipina. Kalau di Eropa mereka pakai minyak kelapa. 

Penggunaan dana IPO rencananya nanti buat apa? 

Kalau dana IPO kan untuk pembelian bahan baku. Kami bulan Desember kedatangan mesin baru dengan menggunakan keuangan perusahaan  sebelum IPO. Kami akan ada ketambahan 10 mesin baru untuk meningkatkan kapasitas produksi dan semoga Januari sudah online. Sekarang persiapan infrastruktur, persiapan listrik,dan persiapan segala keperluan mesin baru ini sedang kita garap.

Untuk tahun depan kami ada Capex sekitar Rp 6-7 miliar untuk menambah fasilitas baru, untuk meningkatkan kualitas minyak yang didapatkan dari ampas kopra. Jadi itu rencana kami short term dan mid term untuk ke depan. 

 

Indo Oil Perkasa
Indo Oil Perkasa

Bagaimana dengan realisasi capex 2021?

Untuk 2021 dana Capex sekitar Rp 5 miliar dan digunakan untuk menambah mesin dan memperbaiki infrastruktur perusahaan. Untuk mesin baru sudah dibayarkan dana sekarang realisasi yang belum tuntas untuk infrastruktur yang masih  on going. 

Bagaimana dengan pertumbuhan pendapatan?

Saat ini kami masih on track semua dari sisi penjualan dan profit masih on track. Target pertumbuhan pendapatan di 2021 ini kami mau di kisaran Rp 350 miliar dan perkiraan saat ini sudah di angka Rp 250 miliar. Tinggal sedikit mencapai target. 

Harapan ke depan setelah IPO? 

Ya kami berharap perusahaan ini menjadi paling besar di global, publik tetap percaya sehingga kami bisa berkembang terus ke depan. Kami ingin membagi dividen yang terbaik pada investor dan sesuai prospektus itu hingga 20 persen pada tahun depan dari profit tahun buku 2021, dan moga-moga terealisasi. ***

 

 

Redaksi Tempias

Tempias.com, portal berita pasar modal, ekonomi dan gaya hidup kekinian. Kontak kami di: redaksi@tempias.com atau divisi usaha: marketing@tempias.com

One thought on “Dirut Indo Oil (IDX: OILS) Johan Widakdo: Kami on the Track Raih Pertumbuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@tempias.com .