Hati-Hati BEI Semprit 4 Emiten, Ada CBMF dan AYLS

Tempias.com, JAKARTA- Bursa Efek Indonesia mengeluarkan status Unusual Market Activity alias UMA untuk empat emiten pada perdagangan Selasa, 21 September 2021. Status ini diberikan karena adanya indikasi transaksi di luar kewajaran. 

Empat emiten yang mendapat UMA dari BEI adalah PT Cahaya Bintang Medan Tbk (IDX: CBMF), PT Agro Yasa Lestari Tbk (IDX: AYLS), PT Kapuas Prima Coal Tbk (IDX: ZINC) dan PT Pacific Strategic Financial Tbk (IDX: APIC). Meski keempat saham tetap diperdagangkan, BEI meminta agar investor lebih teliti. 

Cahaya Bintang Medan merupakan emiten yang bergerak dalam bidang industri perdagangan besar dan eceran, pengolahan serta aktivitas jasa lainnya pada sektor barang konsumen non primer. Pemegang saham utama adalah PT Richiwa Sakti Indonesia dengan kepemilikan 6 persen saham. 

Pada penutupan perdagangan Selasa, 21 September 2021 harga saham CBMF ditutup pada Rp 120. Nilai ini naik 140 persen dalam lima hari perdagangan. Sebelumnya, sejak 20 Juni 2021 harga saham CBMF setia di bawah Rp 60. Bahkan pada Agustus hingga 14 September 2021 harga saham CBMF parkir di Rp 50. 

“Dengan ini kami menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga saham CBMF yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity). Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi, Lidia M Panjaitan dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu, 22 September 2021. 

 

BACA JUGA: Jelang Penutupan Right Issue BRI (IDX: BBRI), HMETD Belum Ditebus Rp 24,96 Triliun

 

BEI juga melihat adanya peningkatan harga di luar kewajaran untuk saham Agro Yasa Lestari atau AYLS. Dalam lima hari perdagangan, harga saham AYLS naik 62,96 persen dari Rp 135 pada perdagangan 15 September 2021 menjadi Rp 220 pada penutupan perdagangan Selasa, 21 September 2021. 

Bila ditarik jauh ke belakang, pada 19 April 2021 BEI juga pernah memberi status UMA pada AYLS saat harga saham emiten bangun dari Rp 50 menjadi Rp 108 hanya dalam kurun waktu 5 hari perdagangan. 

AYLS merupakan emiten dengan bidang usaha perdagangan besar aspal, geosintetik dan bungkil kedelai di sektor barang baku. Pemegang saham utama adalah PT Anugerah Cakrawala Dunia dengan kepemilikan Rp 69,69 persen. 

Pola Transaksi 

Selain memberikan UMA pada AYLS dan CBMF, pada hari yang sama Bursa Efek Indonesia juga memberikan peringatan atas saham PT Pacific Strategic Financial (IDX: APIC). Meski di lantai bursa tidak terlihat adanya kenaikan harga yang mencolok, BEI melihat adanya indikasi ketidakwajaran dari perdagangan saham APIC. 

“Kami menginformasikan adanya indikasi pola transaksi yang tidak wajar pada saham APIC yang di luar kebiasaan (Unusual Market Activity),” tulis Lidia. 

Pada perdagangan Selasa, 21 September 2021 harga saham APIC ditutup pada Rp 855. Nilai ini turun 5 poin atau 1,58 persen dari harga pada Rabu, 15 September 2021 pada Rp 855. Bila dilihat neraca perdagangan sepekan, perdagangan APIC menunjukkan adanya perubahan kenaikan dan penurunan harga secara drastis. 

APIC merupakan emiten yan bergerak di bidang investasi di sektor keuangan. Masyarakat menjadi pemilik saham terbesar dengan kepemilikan 62,77 persen. Sedangkan PT Pacific Capital Investama hanya memiliki 27,81 persen saham perusahaan diikuti PT Pacific Indocorpora dengan kepemilikan 9,42 persen. 

 

BACA JUGA: Bank Neo Commerce (IDX: BBYB) Tunda Pengesahan Akulaku, Begini Penjelasan Direksi

 

Emiten lain yang juga disemprit BEI adalah PT Kapuas Coal Mineral Tbk (IDX: ZINC). Pada penutupan perdagangan Selasa, 21 September 2021 harga saham ZINC adalah Rp 125. Nilai ini turun 6,02 persen dari Rp 133 pada pembukaan perdagangan Rabu, 15 September 2021. 

Meski tidak terjadi kenaikan atau penurunan harga secara drastis, BEI menilai adanya indikasi pola transaksi yang tidak wajar pada saham ZINC. Penurunan harga ZINC terjadi pada saat perusahaan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham. 

Meski memberikan status UMA pada empat emiten yaitu AYLS, CBMF, APIC dan ZINC, bursa menyatakan bahwa pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang undangan di bidang Pasar Modal. BEI hanya meminta kepada investor bahwa bursa saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi empat emiten. 

Atas status UMA, BEI meminta investor untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa. Serta mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya. 

Selain itu investor diminta mengkaji kembali rencana corporate action Perusahaan Tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS. Juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi. (Ira Guslina) 

Ira Guslina

Editor In Chief. Memulai perjalanan jurnalistik sejak mahasiswa. Menjadi wartawan dan editor di beberapa media untuk kemudian mulai memimpin Tempias.com sejak 2020 lalu. Hubungi saya di guslina@tempias.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@tempias.com .