Dirut RUNS Sony Rachmadi Purnomo: Langkah Baru Menuju Global Player Bisnis ERP

 

“IPO membuat confidence level kami meningkat signifikan.”

 

***

Tempias.com, JAKARTA – Bermula dari tekad membangun bisnis di bidang sistem informasi dan manajemen  perusahaan, PT Global Sukses Solusi Tbk. (IDX: RUNS), optimistis melantai di Bursa Efek Indonesia. Saat didirikan pada 2014, RUNS sudah bermimpi untuk bisa menjadi perusahaan terbuka. Kini, bersama tim, RUNS System bersiap bertransformasi menjadi global player di bisnis enterprise resource planning (ERP). 

Bagaimana cerita di balik aksi IPO dan kesiapan perusahaan menatap langkah baru, simak wawancara khusus tim redaksi Tempias.com Ira Guslina dan Alfiyah bersama Direktur Utama RUNS System Sony Rachmadi Purnomo

Bisakah Anda ceritakan bagaimana awal berdirinya RUNS? 

RUNS ini lahir setelah perjalanan panjang. Hasil pemikiran saya dan rekan. Rekan saya biasa bekerja di pabrik, bekerja lintas bidang dan memang kompetensinya di engineering field. Dari tahun 2000 bisa dikatakan programer di beberapa tempat untuk sistem informasi. Kalau saya dulu itu sempat bikin software kecil tapi gagal. Ilmunya kurang banyak saat itu. Sekarang pun masih butuh banyak belajar. 

Belasan tahun di industri akhirnya kami belajar sisi supply dan demand gimana, produksi gimana, sampai jual bagaimana, akhirnya  kita kembangkan RUNS. Pada saat 2014 awal dari Januari sampai Februari saya melakukan riset kira-kira apa sih yang dibutuhkan perusahaan, apa yang dibutuhkan market. 

Waktu riset, saya ambil data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), karena di BKPM selalu ada laporan realisasi investasi. Dari situ kami dapatkan data foreign direct investment sama basic investment. Saya mikir-mikir plek-plekan saja, ga mungkin investasi itu langsung balik modal, apalagi investasi gede. Dari data itu saya juga mikir sederhananya market apa sih yang banyak, produk apa yang masih dibutuhkan bisnis di luar sana, baik untuk bisnis baru maupun yang sudah sustained. Akhirnya kami konsisten kembangkan sistem ERP ini. Saya ambil tiga besarnya mana yang punya potensi dan salah satunya industri manufaktur. 

Untuk bisnis yang kami kembangkan waktu itu masalahnya adalah frekuensi untuk local player belum banyak. Pemain utama dari Amerika dan Eropa, banyaknya dari global. Saya pikir, gak ada masalah, apalagi kalau memang problemnya valid, marketnya valid, bisnisnya valid. Dari sisi bisnis ini menjanjikan sehingga membuat saya ‘menggilakan’ diri untuk kemudian bersaing dengan global player. 

Pada 2014, RUN System ikut dalam program Indigo Incubator yang diselenggarakan PT Telkom Indonesia Tbk, apa motivasinya saat itu? 

Saat itu saya ikut berdua. Kami mendapat inkubasi dan mentoring. Motivasinya untuk pengembangan.  

Pada masa inkubasi apakah RUNS sudah punya klien?  

Belum. Produknya sudah ada, dan saya memang sudah punya roadmap sampai berapa tahun produknya. Saya itu kategori besok itu gimana, jadi semua sudah direncanakan di awal. Saya sudah menyusun preferensi, lihat yang gagal seperti apa dan ya sudah kami mulai seperti apa. 

Saat bikin roadmap sudah terbayang untuk menjadi perusahaan terbuka (initial public offering/IPO)?

Sudah, makanya banyak yang bilang gila. Pada 2014, saat di Bandung, kami ditanya apa bagusnya, apa goals-nya RUNS ke depan. Saya bilang memang IPO. Pandangan saya waktu itu goalsnya ya IPO. Ternyata kemudian kami sadari tidak sesederhana itu landscape untuk IPO, banyak hal yang harus kita lakukan. 

Nah, karena saya sudah tetapkan IPO, ya sudah, selanjutnya saya dan tim mulai masuk pada tahap pemantasan untuk IPO. Apa saja parameternya. Lalu kita breakdown dan ceklist sendiri. Sekarang posisinya sudah on the track. 

ERP kan bisnis yang tidak umum, bagaimana Anda menjelaskan pada orang-orang terdekat soal bisnis Anda? 

Tidak usah jauh-jauh. Keluarga saya pada nanya ERP itu apa. Saya punya prinsip untuk tidak pernah berusaha mengubah persepsi orang atau membuat orang mengerti. Kalau sudah saya jelaskan satu dan dua kali itu tapi tidak bisa ya sudah. Yang akhirnya saya pilih adalah pihak yang bisa dipahamkan saja. Kecil sekali memang tapi efektif. 

Jadi sederhanya saya sampaikan, ERP itu adalah sistem informasi yang digunakan dari hulu sampai hilir yang bisa mendorong peningkatan performance bisnis dan manajemen baik dari segi keuangan maupun distribusi pada perusahaan.

Saya lebih senang dilihat sebagai punya bengkel daripada punya toko kelontong. Kalau bengkel itu spesifik dan orang tahu maunya apa, sedang toko kelontong semua ada. Saya memilih fokus pada segmen terbatas yang kebetulan dari hasil analisa kami marketnya juga gede kok.

 

BACA JUGA: IPO Global Sukses Solusi (IDX: RUNS), Begini Prospek dan Bidang Usaha

 

Dalam operasional RUNS menyasar market yang mana? 

Saat ini kita tidak fokus ke UMKM. Ke small enterprise juga tidak, jadi yang mediumlah. Kami menyasar medium to large Memang notabene dari yang besar itu yang menariknya adalah korporasi yang berasal dari perusahaan keluarga.  

Saat ini banyak pemain global di segmen ERP, bagaimana Anda menyiasati persaingan dengan kompetitor?

Ya saya selalu ngomong pada tim. Tidak ada persaingan, itu semua competition partner saja, bukan persaingan. Kalau kita berlari hanya sendirian ya ga seru. Bukan lomba namanya. Dan saya sampaikan gak ada bedanya berlari dengan pemain global atau lokal. 

Itu juga yang menyebabkan waktu di awal menentukan nama, kami sempat nanya nanti maunya bagaimana. Oh iya kompetitor partner adalah global, maka kita putuskan namanya jangan lokal. Kami pilih namanya RUNS system.

Kita sudah cek merek nama RUNS system masih available di Indonesia. Jadi waktu mendaftar saat itu konsumen belum ada, produk belum komersial. Kita daftarkan dulu saja namanya karena melihat visi ke depan.  

Setelah inkubasi di Telkom, kapan lompatan besar terjadi di RUNS? 

Kalau dikatakan lompatan terbesar adalah saat kami punya 3 konsumen awal. Itu mereka omsetnya sudah ratusan miliar setahun. Mereka mempercayakan kepada kami yang nothing  itu adalah lompatan yang besar. Itu terjadi pada 2015. Tiga klien pertama itu perusahaan swasta dan korporasi keluarga. Itu yang menarik karena perusahaan keluarga dan swasta itu sudah ok. 

Sebenarnya waktu awal itu, kita memang sengaja batasi tiga klien saja karena kami pengen validasi produk. Apakah memang fit dengan kebutuhan pelanggan. Bukan hanya karena ego dan katanya bagus saja. 

Tiga konsumen awal itu di bidang manufaktur, dua perusahaan berorientasi ekspor dan satu perusahaan berorientasi  lokal. Karyawannya ada yang 2-ribuan, ada 1.300 dan ada yang 600 karyawan. Menariknya kalau kemudian sistem ini tidak fit, atau crash misalnya, kebayang dong bagaimana orang gak gajian. Bisa didemo massa kami. Selisih Rp5 ribu saja sudah susah. Atau misalnya supliernya malah salah input atau saat pengiriman penghitungannya tidak cocok ya juga susah. 

Pernah ada trouble pada saat di awal membangun sistem? 

Di awal pasti ada ya ketidaksesuaian dan sebagainya. Cuma memang sejak inkubasi kami sudah fokus di urusan validasi. Jadi pada pelaksanaan, ibaratnya itu di-slice tipis-tipis untuk kemudian dijadikan sebuah picture yang di-deliver. Jangan gede-gede karena risikonya gede. Jadi kecil, baru dikirim lalu ditambah lagi begitu seterusnya. Sehingga kalau ada problem dengan risk management yang ada, maka resiko akan kecil. 

Bagaimana ceritanya bisa dapat tiga konsumen pertama?

Yang menarik pelanggan ketiga itu dapatnya dari pelanggan kedua, Bisa dikatakan ini keuntungan kita. Saat saya menghubungi calon klien ini saya sampaikan, Pak daripada kami cerita panjang lebar Bapak datang saja ke konsumen kami dan tanya saja ke mereka. Dan ternyata justru pelanggan kedua ini yang menyampaikan testimoni pada pelanggan ketiga dan sampai sekarang konsumen ini masih jalan. 

 

Jadwal IPO Run System September 2021
Run System

 

Bagaimana cara Anda menembus perusahaan besar untuk jadi klien?  

Kalau dipahami kan kami dari dulu sampai sekarang belum gede. Apalagi kalau dihadapkan dengan global player. Dari 2015 sampai sekarang kami berkolaborasi dengan partner. Jadi kami sebagai tim belajar dari yang lain. Mayoritas pendapatan mereka datang dari partner sehingga kami tidak membuat divisi marketing tapi partnership. Dari bisnis partner kami yang bertindak, dan kami sebagai prinsipal saja yang punya produk.

Setelah 2015, kapan langkah IPO mulai diseriuskan? 

Sejak 2 tahun lalu. Kalau boleh cerita, itu gara-garanya karena sudah bikin business plan 5-tahunan. Maka 2 tahun lalu kita kumpulkan tim dan bahas kita mau masuk ke liga yang lebih menantang. Saya sampaikan, kita mulai deh inisiasi untuk proses IPO. Dari situ kita lihat lagi ceklis-nya apa saja yang harus dipunyai baik dari sisi organisasi, compliance, performa dan sustainability

Ceklistnya banyak banget dan fokusnya di compliance. Karena saya menyadari bahwa listing di bursa itu bukan cuma masalah kami pengen dipercaya banyak orang, tetapi menjaga kepercayaan publik sehingga kemudian compliance nya itu, atau Good Corporate Governance (GCG) yang perlu. 

Memenuhi kepatuhan itu yang menjadi tantangan bagi kami. Kalau dulu kan berpikir bagaimana mendapatkan konsumen sebanyak mungkin. Sekarang kita mikirnya compliance-nya gimana, jadi gak bisa gladak gluduk karena kemudian ada kepercayaan publik yang harus dijaga, ada shareholder yang mempercayakan kepesertaan saham mereka ke kita nantinya.

Nah di salah satu momen saya sampaikan pada tim, ini nanti effort-nya akan ada orang-orang baru yang kemudian bantu kita. Siap tidak tim dengan ini. Dan semua bilang siap.  

Saya masih ingat banget ada teman yang bilang IPO nanti ibaratnya sepakbola. Ada yang dulu jadi starter lalu saat ada pelatih baru starter tadi diganti pemain baru. Lalu bagaimana? Ya saya bilang ga apa-apa sepanjang untuk perkembangan bisnis. Yang penting kita bisa bersaing dan bisa naik kelas ya ayuk. Dan benar kata orang, proses IPO itu juga proses mental dan kerelaan tim yang lama. 

Saat akhirnya disepakati IPO di 2019 sudah berapa klien yang bekerjasama dengan RUNS? Sebesar apa RUNS waktu itu?

Saat itu kami sudah confidence. Dari sisi peraturan atau dari sisi klasifikasi dan regulator itu sudah sesuai. Dari sisi sustainability itu sudah bisa dijaga. Berdasarkan pendalaman peraturan kita sudah dapat banyak feedback juga. 

Apa yang paling banyak berubah setelah semua bersepakat IPO? 

Yang paling terasa itu, dulu kami bisa dengan cepat menerima klien baru. Kalau sekarang kita pikirkan dulu banyak aspek. Compliance ga, sesuai aturan gak. Jadi lebih hati-hati. Dulu orientasinya pertumbuhan, tapi sekarang tidak begitu. Sekarang ada yang mengingatkan kami bahwa kepatuhan penting untuk menjamin sustainability bisnis. 

Di prospektus ada sejumlah nama besar di belakang RUNS seperti Febri Diansyah hingga Tung Desem Waringin. Ini bagaimana ceritanya? 

(Hahahahaa). Itu memang komisaris independen. Yang saya mention pertama pada saat IPO salah satu pertanyaanya adalah what next. Ooo. lalu disepakati kami mau yang begini dengan size seperti ini. Setelah itu kami lihat dari kondisi yang akan kita tuju itu apa saja yang kami butuhkan. Resource-nya seperti apa, experience-nya apa saja.

Akhirnya yang terkait dengan compliance dan GCG kami sadari tidak hanya terkait perusahaan tetapi GCG buat produk. Kami ingin semua perusahaan pengguna RUNS System, bisnisnya tidak cuma besar tapi sustainable.  Saya ingin produk RUNS System itu sesuai prinsip GCG sehingga konsumen kami secara tidak sadar juga ikut menjadi GCG.

Waktu itu, saya ingat mas Febry baru keluar dari KPK, terus saya coba minta teman untuk kontak. Lalu hubungi beliau dan akhirnya setelah saya sampaikan, ‘Mas kami sudah lakukan ini dan akan lakukan ini dan itu, bersedia ga bantu’. Kemudian dia alhamdulillah bersedia bantu. Beberapa teman di bursa bilang Komite GCG itu jarang lho. Saya bilang ga apa karena ini memang untuk produk dan untuk jangka panjang

Begitu juga Pak Tung. Waktu itu ngobrol sama tim siapa kira-kira yang bisa memandu kita dari sisi culture untuk menjadi lebih besar. Tim bilang bisa tidak kita dapat Pak Tung, Dan kami coba hubungi beliau. 

Kita lihat banyak perusahaan yang saat gede ambruk dan itu yang ingin kami jaga. Kami lihat Pak Tung sudah memandu banyak perusahaan dan memiliki banyak perusahaan dan culture-nya bagus.  

Akhirnya saya coba kontak beliau. Saya beranikan diri sampaikan ke dia dan berbagi visi. Saya sampaikan apa adanya dan surprising dia bersedia. Alhamdulillah ngobrolnya sangat membantu kami dan bantu tim internal. 

 

 

Manajemen RUNS System
Manajemen RUNS System

 

Bagaimana respon pelanggan dengan penerapan GCG ini? 

Setelah Mas Febry oke untuk HCH ini, lalu kami mulai lakukan penyesuaian. Kami kemudian mengambil ISO 37001. Kita ambil karena di salah satu modul konsumen kami ingin validasi apakah sudah sesuai. 

Kalau perusahaan itu besar tapi GCG ga pas maka nantinya akan susah. Apalagi masa pandemi begini akan terasa. Kalau ada bocor prosesnya lalu diabaikan maka jadi sulit banget. Kalau ada yang tidak sesuai. Maka kami ingin konsumen kami aman dan jangka panjang. Dan konsumen mendukung. 

Bagaimana dampak proses IPO terhadap RUNS? 

Untungnya mungkin karena culture yang sudah dibangun selama ini, kami merasa ini milestone baru. Dan banyak yang menganggap ini amanat. Dengan IPO ini kami tumbuh, menjaga persepsi dan ekspektasi publik. Teman-teman bilang kok bebannya nambah, tapi  ya itu konsekuensi. 

Kalau dipikirkan saya dan teman saya maka kita akhirnya mendapatkan banyak hal positif dari proses IPO ini  Dengan proses IPO ini sebagian pelanggan saya juga ikut bangga. Dan saat mereka bikin statemen, kami bangga karena para mitra ikut bangga. Benefitnya buat stakeholder, dan mitra jadi terasa. Trust-nya meningkat. Confidence level-nya meningkat signifikan. 

Untuk proses IPO bagaimana RUNS  membangun komunikasi dengan Mira Asset dan BRI Danareka sebagai underwriter?  

Kami yang tentukan. Sebenarnya ada beberapa pihak yang komunikasi namun karena berbagai pertimbangan. karena size kami yang ga gede banget, beberapa orang bilang cukup satu aja, tapi kita pilih dua. Guyonannya itu kami startup lokal indonesia, dibuat lokal diinkubasi BUMN lokal, bekerjasama juga tumbuh dengan perusahaan lokal diinvestasi juga oleh MDI Ventures dan pada saat IPO di bursa oleh salah satu underwriter oleh BUMN juga. 

Setelah IPO apa target yang ingin dicapai?

Kebetulan dan alhamdulillah kepercayaan penggguna tinggi, itu yang ingin kami jaga sehingga penggunaan dana terbanyak untuk mengembangan produk dan layanan. Kemudian ekspansi dengan produk untuk market yang lebih luas. 

Sekarang kalau ngomong sektor industri sudah banyak dan kami masih sedikit. Dan itu peluangnya masih gede. Maka penggunaan dana IPO untuk penetrasi market baik di tingkat nasional dan regional. Waktu akhir tahun nanti kami sudah mulai aktif lagi untuk ekspansi 

Kami confidence ekspansi regional. Kita mulai banyak komunikasi di global market. Terus kita juga kemarin terpilih kegiatan di Vietnam. Target kita di Vietnam sebenarnya sudah lama karena karakteristik sama dengan family business yang ada di Indonesia. Pasar di Vietnam juga gede pertumbuhannya sehingga sangat menarik. 

Kebetulan kami lolos jadi 1 dari 50 perusahaan asing yang diundang untuk ekspansi lewat acara startup bersama pemerintah Vietnam pada Oktober 2021 nanti. Kegiatan ini memberi kami kesempatan punya business address di sana dan disupport pemerintah Vietnam.

 

BACA JUGA: Dirut IDEA Eko Desriyanto: Membangun Trust Industri Hospitality

 

Saat ini apakah target market RUNS masih di manufaktur?

Sekarang sudah mix. Walau terbesar di manufaktur tetapi mulai ada perusahaan konstruksi, kemudian service, hospitality, agrobisnis, dan logistic. Ada batu bara juga, itu lumayan. Jadi kontribusi per sektor sudah mix ke berbagai bidang.

Totally sekarang berapa perusahaan yang sudah kerjasama? 

Sudah sekitar 50-an. Kita juga komersil baru 2015. Cuma memang kalau liat dari pemain yang lain juga setahun tidak banyak. Masih dua digit. Kami bisa serelatisis dan konservatif mungkin. 

Menurut kami, dengan 50-an klien pencapaian sudah surprise. Ini semua karena support dari mitra juga. Kami lakukan kolaborasi dengan banyak pihak.  

Adakah kriteria khusus dari RUNS saat memilih klien? 

Sejauh ini yang kami tolak ada, yang dipending apalagi. Saya lebih suka sebutnya ditolak sebagian. Data kami, 82 persen perusahaan itu tidak tahu problemnya di mana. Makanya kemudian kita kasih ceklist dan minta klien isi dengan beberapa layer ada direksi, manajemen, dan staf. Sama ga mereka melihat problem dan challenge-nya. Kalau sama ayo kita lanjut kerjasama. Kalau tidak ya tidak bisa dipaksakan. Ada dua kriteria yang harus kami tekankan yaitu kesiapan klien dan untuk menerapkan di perusahaan. 

Hampir 60 persen konsumen kami dapatnya dari referensi business partner. Jadi kami tidak jualan tapi mereka dengar langsung dari klien existing. Ada cerita salah satu klien saya itu ownernya perusahaan gede. Dia minta temenin ke mitranya dan dia yang presentasi. 1,5 jam saya hanya menemani, sisanya klien saya justru yang sampaikan. Market akuisisinya jadi murah. Mereka kemudian juga pengen dapat benefit yang sama. 

Apa challenge ke depan yang jadi perhatian RUNS? 

Mungkin terlalu klise. Tapi challenge itu ada pada adopsi teknologi terbaru yang sesuai dengan perkembangan. Dan kedua regulasi setiap negara terkait global isu seperti pandemi dan perubahan iklim. Mungkin ini terlalu jauh tapi di beberapa negara sudah terasa. Beberapa negara misalnya justru mulai meningkatkan keterlibatan local wisdom. Untuk konteks di di Indonesia kita malah menjadi untung. 

Untuk adopsi teknologi terkini kita pakai pendekatan SWT: strength weakness dan trend.  Jadi kami akan lihat trendnya bagaimana. Ada contoh, saat 2015 kami implementasi trend baru dan impactnya baru terasa pada 2018.  Dulu waktu kita kembangkan ada keraguan dari tim, ini nanti kepake ga? Tetapi justru terasa saat itu akhirnya digunakan.

Bagaimana komitmen RUNS dalam keamanan data terhadap kliens? 

Bagi kami yang penting adalah kerjasama klien untuk keamanan data. Karena kalau ngomong keamanan data, ga bisa hanya dari satu aspek aplikasi dan tools tetapi juga dari kebijakan mereka. 

Saat bersama klien kami tidak hanya bicara aplikasi tetapi juga mengubah kebijakan sistem informasi mereka sendiri, soal data center mereka harus bagaimana. Misalnya ada USB yang perlu diganti, diatur waktu security atau misalnya tidak semua karyawan punya akses internet dari sisi perusahaan. Atau kalau diberi akses itu diatur. Biasanya kami ajak diskusi dan alhamdulillah mereka mau.

Jadi ini bukan hanya soal siapa yang bertanggung jawab, tetapi ini soal membangun bersama sistem keamanan karena pintunya banyak sekali. Kadang yang kena bukan aplikasi RUNS System tetapi data di luar, dan mereka akan kesulitan. Kalau data mereka yang kena jadi yang pusing nanti kami juga, jadi tidak melulu soal aplikasi. 

Paling hanya 10 persen yang bermasalah dengan aplikasi tetapi banyak yang di luar itu. Maka kita akan rutin ajak klien diskusi dan mengingatkan akan pentingnya keamanan. 

Setelah IPO apa harapan dan capaian yang diprioritaskan RUNS?

Kita ingin mewujudkan visi kita memberi kesempatan yang sama bagi perusahaan yang mungkin orang lihat biasa saja tetapi bisa menggunakan sistem yang bagus. Jadi tidak hanya menunggu gede punya tata kelola dan bisnis yang excellent seperti perusahaan gede. Bahkan perusahaan lokal itu juga bisa. Itu yang ingin kita dorong lewat IPO bagi stakeholder RUNS dan ekosistem untuk ayuk kita bersama bisa bergerak untuk lebih baik. Bisa meningkatkan level confidence. 

Bagaimana Anda melihat respon publik? 

Kalau dari aspek antusiasme menjadi part of shareholders itu tinggi.  Di luar perkiraan terjadi oversubscribed. Dari sisi bisnis sendiri, existing pelanggan kami impact-nya gede dan trust tinggi. Kami memang terbiasa mengajak mitra kami ikut serta dalam proses ini. Banyak juga new partner merasa antusias dengan IPO yang sedang dijalankan RUNS 

 

Sony Rachmadi Purnomo
Sony Rachmadi Purnomo

One thought on “Dirut RUNS Sony Rachmadi Purnomo: Langkah Baru Menuju Global Player Bisnis ERP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *