‘High Pain’ Bank Neo (IDX BBYB) Demi Bank Digital, Bagaimana Prospek Saham?

Tempias.com, JAKARTA- PT Bank Neo Commerce Tbk (IDX: BBYB) bergerak cepat mewujudkan mimpi menjadi bank digital. Sejak meluncurkan aplikasi Neo+ Mobile Banking pada Maret 2021 lalu, perusahaan jor-joran melakukan ekspansi. 

Ekspansi bisnis menuju bank digital BBYB ini makin getol setelah Akulaku masuk menjadi pemegang saham pengendali pada Juli lalu. Kehadiran fintech terdepan di bidang pembiayaan mikro dan menengah itu, BBYB makin jor-joran ‘bakar uang’ untuk melakukan berbagai promosi bisnis. 

“Sejak September 2020 Kami telah bertransformasi dalam identitas kami menjadi Bank Neo Commerce untuk memberikan layanan keuangan secara kekinian melalui teknologi digital kepada pelanggan kami,” ujar direksi BBYB dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis, 2 September 2021. 

Demi mewujudkan mimpi menjadi bank digital terdepan, BBYB bahkan rela memangkas pendapatan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per Juni 2021, perusahaan mengalami kerugian bersih tahun berjalan sebesar Rp 132,85 miliar. 

Pada pembukuan Juni 2020, perseroan mencatatkan laba bersih tahun berjalan Rp 19,6 miliar. Dengan kata lain BBYB mengalami lonjakan kerugian sebesar 782 persen pada Juni 2021 dibanding Juni 2020.

BACA JUGA: BBYB Gelar RUPSLB: Menanti Gebrakan Ekosistem Alibaba dan Aksi Right Issue (Lagi)

 

Berdasarkan laporan keuangan BBYB yang disampaikan pada Minggu, 29 Agustus 2021, perusahaan dalam konglomerasi keuangan Alibaba dari China itu mencatatkan lonjakan pendapatan bunga sebesar 27,7 menjadi Rp 300,29 miliar. BBYB juga berhasil menaikkan pendapatan operasional. Pos non bunga itu naik dari Rp 27,04 miliar menjadi Rp 31,69 miliar. 

Akan tetapi, kenaikan pendapatan tidak mampu menutup beban yang harus dibayarkan perusahaan. BBYB hingga Juni 2021 terlihat mengalami lonjakan beban yang sangat tinggi. Melonjak lebih dari 177 persen. Pada semester I/2020 lalu, beban yang harus dibayarkan perusahaan sebesar Rp 100,27 miliar. Akan tetapi sepanjang 6 bulan pada tahun ini, beban yang harus dibayarkan menjadi Rp 277,02 miliar. 

Lonjakan beban perseroan terjadi di semua pos. Lonjakan terbesar terjadi pada pos pemasaran. Rinciannya, pos tenaga kerja naik dari Rp 38,96 miliar menjadi Rp 60,21 miliar, beban administrasi dan umum naik dari Rp 44,61 miliar menjadi Rp 85,60 miliar.

Pada pos pemasaran naik dari Rp 5,87 miliar menjadi Rp 104,76 miliar. Sedangkan kerugian bersih penurunan aset naik dari Rp 10,82 miliar menjadi Rp 26,43 miliar. Beban pemasaran ini pada penjelasan laporan keuangan didominasi oleh sponsorship atau bagi sebagian kalangan dianggap sebagai ajang ‘bakar uang’ sebesar Rp 104,47 miliar dari periode sebelumnya Rp 277,12 juta. 

 

BACA JUGA: Gocek Saham BBYB, Berkah Alibaba dan Pedang Pora untuk Asabri

Meski berbalik rugi, BBYB tercatat membukukan lonjakan aset dari Rp 5,4 triliun menjadi Rp 6,99 triliun. BBYB juga mengalami lonjakan dana pihak ketiga dari Rp 3,32 triliun menjadi Rp 4,6 triliun. Selain itu, Bank Neo juga mencatatkan lonjakan aset lain-lain yakni dari Rp 536 miliar menjadi Rp 1,29 triliun. 

Saat kinerja berbalik rugi, BBYB mengumumkan akan menyelenggarakan public expose (pubex) insidentil terkait kinerja saham perusahaan. Aditya Wahyu Windarwo, Plt Direktur Risiko dan Kepatuhan BBYB menyebutkan pubex akan diselenggarakan pada 6 September 2021 mendatang secara virtual melalui zoom meeting. 

Dalam waktu dekat perusahaan rencananya akan menggelar dua aksi korporasi. Antara lain rencana Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue. 

“(juga menggelar) Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dengan salah satu agenda Persetujuan atas Pengambilalihan Perseroan oleh PT Akulaku Silvrr Indonesia (Pengambilalihan),” tulis direksi. Rencananya RUPS Luar Biasa akan dilakukan pada 20 September 2021. 

IDX BBYB
IDX BBYB

Prospek Saham BBYB

DI tengah penurunan laba dan rencana aksi korporasi yang akan dilakukan, di lantai bursa minat investor terhadap saham BBYB tergolong tinggi. Pada perdagangan Rabu, 1 September 2021, saham BBYB masuk dalam 10 emiten dengan active frekuensi. Bahkan asing pun tercatat turut menyerok saham BBYB dengan total pembelian 31,15 miliar. 

Sepanjang pekan terakhir Agustus 2021, harga saham BBYB anjlok 270 poin dari Rp 1.850 pada perdagangan 26 Agustus 2021 menjadi Rp 1.580 pada penutupan perdagangan Rabu, 1 September 2021. Namun, bila dilihat rentang 1 bulan, harga saham BBYB telah naik 95 persen dari Rp 810 pada perdagangan Senin 2 Agustus 2021. 

Sejumlah analis menilai, gerak serius BBYB bertransformasi menjadi Bank Digital akan mendongkrak harga saham secara signifikan. Dalam laporan risetnya, Sucor  Sekuritas bahkan menyatakan saham Bank  Neo bisa mencapai  Rp 4.340  per  lembar dengan  rekomendasi beli.

Lebih jauh, transformasi BBYB diperkirakan akan membuat Bank Neo  memimpin sebagai bank digital dengan pertumbuhan  yang cepat. Hal ini terlihat dari melesatnya jumlah pengguna BBYB yang tumbuh menjadi 6 juta dalam waktu 5 bulan. 

Pengalaman dan teknologi yang dikembangkan Akulaku yang merupakan ekosistem Alibaba akan turut menjadi katalisator transformasi. Penetrasi dan gebrakan Alibaba di BBYB diramal akan menjadi lebih cepat setelah fintech Akulaku resmi menjadi pemegang saham pengendali BBYB setelah 20 September mendatang. (Ira Guslina)

One thought on “‘High Pain’ Bank Neo (IDX BBYB) Demi Bank Digital, Bagaimana Prospek Saham?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *