Wijaya Karya (IDX: WIKA) Update Holding Hotel, Aset Melambung tapi Kok Saham Turun?

Tempias.com, JAKARTA – PT Wijaya Karya (persero) Tbk. (IDX: WIKA) mengumumkan keterbukaan informasi proses integrasi bisnis holding hotel yang dipimpin anak usahanya PT Wijaya Karya Realty (WIKA Realty). 

Peran WIKA Realty sebagai holding hotel plat merah berdasarkan Surat Kementerian BUMN yang diterbitkan 26 Oktober 2020 lalu. 

“Intinya [surat menteri BUMN meminta] Perseroan agar menunjuk WIKA Realty untuk melakukan integrasi dan peningkatan bisnis hotel BUMN melalui inbreng saham, akuisisi atau kombinasi inbreng saham dan akuisisi,” tulis Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan WIKA di Jakarta, Sabtu, 21 Agustus 2021.  

Dalam integrasi bisnis hotel BUMN ini, hotel yang akan diintegrasikan di bawah WIKA Realty adalah 11 hotel yang sebelumnya dikelola PT Hotel Indonesia Natour (Persero), 1 hotel yang berasal dari PT Aerowisata, dan 9 hotel yang berasal dari PT Pegadaian (Persero).

 

BACA JUGA: Divestasi Mitrabahtera (IDX: MBSS), Lo Kheng Hong & Jejak Galley Arnawarna

 

Hingga akhir 2020, WIKA Realty sendiri mengoperasikan 7 hotel. Perusahaan ini adalah Best Western Premier The Hive Hotel Jakarta, Kyriad Hotel Airport Tangerang, Best Western Papilio Hotel di Surabaya, Best Western Premier La Grande Hotel di Bandung, Wyndham Tamansari Jivva Resort, Golden Tulip Jineng Resort Bali, hingga Best Western The Lagoon Manado Hotel. 

Mahendra menyebutkan, WIKA telah melakukan injeksi modal Rp 775 miliar kepada WIKA Realty untuk pembayaran aset pegadaian, serta pembayaran sisi tunai dalam akuisisi saham hotel milik Hotel Indonesia Group (HIG), Hotel Indonesia Properti (HIPro) dan Senggigi Pratama Internasional (SPI). 

“Untuk melaksanakan Holding BUMN, WIKA Realty selaku Perusahaan Kendali telah melakukan akuisisi saham milik PT Patra Jasa di HIG yang nantinya akan mengoperasikan dan mengelola hotel-hotel yang diintegrasikan kepada WIKA Realty,” ulasnya lebih lanjut.

 

BACA JUGA: Daftar Saham LQ45 (Blue Chip) Update Juli 2021 & Bidang Usaha

 

WIKA Realty juga telah melakukan akuisisi saham milik Aero Wisata di Senggigi Pratama Internasional. Akuisisi itu dilakukan dengan pelepasan saham WIKA Realty ke Aero Wisata serta sebagian dengan pembayaran tunai. Termasuk kepada dana pensiun Aerowisata. 

Untuk aset Pegadaian dan FF & E milik Pesonna Jaya Indonesia, kata Mahendra, perusahaan melakukan pembelian yang terdiri dari 9 hotel berlokasi di Tegal, Pekalongan, Tugu Yogyakarta, Ngupasan Yogyakarta, Gresik, Makassar, Semarang, Pekan Baru, Surabaya.

Pada Hotel Indonesia Natour (persero) transaksi dilakukan mekanisme sebagian pembayaran tunai termasuk pertukaran saham. 

“Saat ini baru dilakukan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) Saham yang nantinya setelah persyaratan PPJB dipenuhi akan dilaksanakan Akta Jual Beli Saham bersamaan dengan tukar menukar saham WIKA Realty melalui pengeluaran saham dalam simpanan dengan saham milik HIN di HIPro,” katanya lebih lanjut. 

 

BACA JUGA: PP Properti (IDX: PPRO) Kuasai Prime Park Pekanbaru, Saham Terbang?

 

DAMPAK HOLDING HOTEL BAGI KINERJA WIKA

Setelah rencana transaksi holding rampung dilakukan, WIKA menyebutkan perusahaan akan memperoleh sejumlah keuntungan. Meski saham perseroan di WIKA Realty akan turun, akan tetapi jumlah aset perusahaan akan naik karena kepemilikan mayoritas dalam holding. 

“Secara konsolidasi, perseroan akan mendapatkan penambahan aset atas transaksi Holding Hotel yang dilakukan oleh WIKA Realty,” jelas Mahendra.

Dalam laporan keuangan proforma yang diterbitkan WIKA, konsolidasi holding hotel ini membuat aset perusahaan naik menjadi Rp 65,32 triliun. Berbanding Rp 61,94 triliun sebelum holding hotel dibentuk. Penambahan aset itu terutama pada properti investasi yang naik dari Rp 2,14 triliun menjadi Rp 6,38 triliun. 

 

BACA JUGA: IPO Surya Biru Murni Acetylene (IDX: SBMA), Calon Investor Perhatikan 8 Fakta Penting Ini

 

Saat aset tumbuh bongsor, liabilitas perusahaan turut naik dari Rp 45,14 triliun menjadi Rp 46,61 triliun. Pos yang membengkak adalah utang lain-lain perusahaan dari Rp 14,63 miliar menjadi Rp 932,09 miliar. Sementara ekuitas WIKA akan naik dari Rp 16,79 triliun menjadi Rp 18,71 triliun.

Meski dari sisi aset melonjak, kondisi laba rugi WIKA tidak banyak berubah. Sebelum penggabungan, laba komprehensif sebesar Rp 134,02 miliar. Jumlah itu tidak berubah setelah penggabungan.

“Dengan adanya pembentukan holding hotel, akan menjadi bentuk stimulus diversifikasi kegiatan usaha dan fokus WIKA Realty kepada pasar recurring income, dimana WIKA Realty akan menjadi perusahaan yang mengintegrasikan hotel-hotel BUMN menjadi nilai tambah di manajemen bidang perhotelan,” katanya. 

Sementara itu, dari lantai Bursa Efek Indonesia, harga saham WIKA ditutup Rp 850 pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Agustus 2021. Nilai ini anjlok 1,16 persen secara harian. 

Harga saham  WIKA jika ditarik sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), telah anjlok -58,33 persen dari level Rp 2.040 per lembar saham pada 4 Januari 2021. 

3 komentar pada “Wijaya Karya (IDX: WIKA) Update Holding Hotel, Aset Melambung tapi Kok Saham Turun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *