Profil Jusuf Hamka, Raja Tol Dalam Kota

Tempias.com, JAKARTA – Jusuf Hamka merupakan salah satu konglomerat Tanah Air yang identik dengan bisnis jalan tol dalam kota melalui Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP). 

Tidak ada catatan pasti kepemilikan Jusuf Hamka atas perusahaan yang menguasai ruas tol Cawang – Tanjung Priok dan Tanjung Priok – Jembatan Tiga/Pluit itu. Yang terlihat hanya jajaran manajemen dikuasai oleh putra dan putrinya. CMNP sendiri juga menguasai jalan tol Depok-Antasari, Simpang Susun Waru – Bandara Juanda Surabaya, Soreang – Pasir Koja, Cileunyi – Sumedang – Dawuan melalui anak usaha. Ruas tol yang startegis karena menghubungkan ke dalam kota atau bandara.

Sang putri yang juga dikenal dalam komunitas sosialita, Fitria Yusuf ditempatkan sebagai Direktur Utama. Sedangkan dua anak lainnya yakni Feisal Hamka dan Farid Hamka menjadi presiden komisaris dan komisaris dalam CMNP. 

 

BACA JUGA: Profil Listiarini Dewajanti, Direktur Keuangan dan Investasi Pupuk Indonesia Pilihan Erick Thohir

 

CMNP sendiri kerap berganti pengendali. Perusahaan ini didirikan oleh Putri Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Seiring riuh reformasi, peran keluarga ini perlahan meredup. Nama Hari Tanoe, Keluarga Sumampau, hingga bos Bursa Efek Indonesia, Toto Sulistyo pernah singgah dalam perusahaan ini.  

Peran Mbak Tutut terlihat terwakili oleh Danty Indriastuty Purnamasari. Putri Mbak Tutut yang cukup lama berperan dalam perusahaan ini, mulai dari komisaris, direktur utama, hingga terakhir mundur sebagai komisaris utama pada 2016. 

Setelahnya keluarga Hamka mengambil peran lebih banyak. Data Bursa Efek Indonesia mencatat per Juni 2021, pemegang saham CMNP terdiri dari dua pihak yakni nomine atas nama BP2S Singapore/BNP Paribas Singapore Branch Wealth Management/PT Sport Indonesia Online (59 persen) dan masyarakat (41 persen).  

Lalu siapa Jusuf Hamka, taipan ini dikenal dekat dengan sejumlah konglomerat Tanah Air. Mulai dari bos Artha Graha Tommy Winata hingga raja Mie Anthoni Salim. Kedekatan ini terlihat dari kepercayaan Anthoni Salim, pengendali akhir PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IDX: IMAS) menetapkan sosok yang dikenal dengan nama Babah Alun itu sebagai Komisaris Independen dalam konglomerasi untuk mobil dan motor merek Suzuki itu sejak 2002 hingga saat ini. Namanya juga muncul sebagi komisaris sejumlah perusahaan terkait tambang di Kalimantan Timur.

Sedangkan Bos Artha Graha, Tommy Winata menempatkan Jusuf Hamka mengendalikan rumah sakit lapangan penanganan Covid-19 di Ancol, Jakarta Utara. 

Sejumlah media mencatat Jusuf Hamka pada 1990an sebagai raja kayu. Jusuf merupakan pengelola pabrik playwood raksasa PT Daya Besar Agung, Bukuan Corp. Daya Agung saat ini dalam proses dijual karena sudah tutup seperti ratusan industri playwood lainnya.

Sedangkan orang tuanya  merupakan dosen. Laman instagramnya menyebutkan pada periode 1986 sampai dengan 1989, dirinya masih bekerja sebagai supir traktor untuk pembuatan jalan pada Pabrik Plywood di desa Bukuan, Kecamatan Palaran. Jusuf Hamka menyebutkan, saat bekerja di pinggir Sungai Mahakam itu, dia bergaji Rp 750.000 per bulan.

Karirnya kemudian melambung. Dia kemudian menjadi penasehat bagi sejumlah konglomerat. Termasuk Kelompok Salim.

Dalam laman Indomobil, Jusuf disebutkan kelahiran 1957. Babah Alun, panggilan Jusuf Hamka telah mengecap berbagai latar pendidikan seperti administrasi bisnis, hukum, kedokteran, dan ilmu politik namun tidak semuanya selesai. 

Gelar akademik yang akhirnya dia pegang adalah Bachelor of Business Administration dari British Columbia College, Vancouver, Canada. Instagramnya, @jusufhamka kerap digunakan untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Jusuf Hamka juga menjadi pencetus Masjid Kolong Tol Babah Alun dan Warung Podjok Halal. 

 

BACA JUGA: Profil Silmy Karim, Didikan BIN Pembalik Kinerja Krakatau Steel (IDX: KRAS)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *