Prospek Saham KRAS, Menakar Kinerja dan Arah Subholding Infrastruktur

Tempias.com, JAKARTA- PT Krakatau Steel Tbk (IDX: KRAS) berhasil membukukan laba bersih Rp475 miliar selama Semester I/2021. Pencapaian ini jauh di atas pendapatan laba bersih pada Desember 2020 yaitu Rp67 miliar. 

Direktur Utama KRAS, Silmi Karim dalam Laporan Keuangan perusahaan seperti diakses pada Rabu, 21 JUli 2021 menyebutkan pendapatan laba terutama ditopang oleh penjualan selama awal tahun. Meski turut tertekan akibat Covid-19, namun perusahaan tetap membukukan kenaikan penjualan dibanding Desember 2020. 

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan penjualan produk baja selama semester I/2021 nilai penjualan KRAS mencapai Rp 15,3 triliun atau naik 90,9 persen dari Rp8 Triliun pada akhir 2020 lalu. Nilai penjualan untuk kebutuhan lokal mencapai Rp11,626  triliun (kurs Rp 14.600). 

Perdagangan luar negeri sepanjang Semester I/2021 juga mencatatkan kenaikan menjadi Rp1,89 triliun.Total ekspor Krakatau Steel  meningkat hingga 15 kali lipat dibanding periode yang sama 2020 dari 10.817 ton menjadi 162.243 ton pada 2021. 

Penyumbang pendapatan KRAS lainnya adalah dari rekayasa  konstruksi tercatat Rp 222,7 miliar, naik dari Desember 2021 yang hanya Rp216,6 miliar. Selanjutnya diikuti sektor sarana infrastruktur menyumbang laba dengan pendapatan Rp1,25 miliar dan pendapatan dari jasa lainnya Rp403 juta.

 

“Grup melakukan transaksi penjualan dengan entitas berelasi dengan Pemerintah dengan total masing masing sebesar 2.33 persen dan 3.90 persen dari total pendapatan neto konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2021 dan 2020.” 

 

Moncernya Kinerja KRAS juga diikuti oleh perbaikan kinerja anak perusahaan. Masih berdasarkan laporan keuangan Semester I/2021 nilai penjualan anak perusahaan Krakatau Steel naik 46,6 persen menjadi Rp4,7 triliun dari periode sama tahun lalu sebesar Rp3,2 triliun. 

Capaian laba bersih anak perusahaan KRAS juga meningkat dari Rp 327 miliar pada periode sama tahun sebelumnya menjadi  Rp 397 miliar pada Semester I/2021.Perbaikan kinerja ini ditopang peningkatan produktivitas, penambahan volume penjualan domestik dan ekspor dan adanya efisiensi di berbagai sektor. 

Silmy Karim Direktur Utama KRAS
Silmy Karim Direktur Utama KRAS

KRAS Bangkit dari Rugi Menahun

Pencapaian positif kinerja keuangan KRAS pada semester I/2021 menjadi titik balik dari kinerja perusahaan yang dirundung rugi selama bertahun-tahun. Pencapaian laba mulai diterima sejak pembukuan akhir Desember 2020 dengan laba bersih US$36,55 juta. Padahal pada pembukuan tahunan 2019 perusahaan mengalami rugi US$169,32 juta. 

Berdasarkan laporan keuangan, selama 2020, pendapatan operasi lainnya tumbuh  358,49 persen yoy menjadi US$157,31 juta pada 2020. Sedangkan beban operasi lainnya turun 95,24 persen secara tahunan menjadi US$13,52 juta. SIlmy menyebutkan perubahan ini didorong efektivitas dan efisiensi besar-besaran yang dilakukan perusahaan. 

BACA JUGA: Profil Silmy Karim, Pembalik Kinerja Krakatau Steel (IDX: KRAS)

Bila melihat lebih juah, pada periode 2012-2019 kinerja keuangan KRAS selalu mentok di angka minus. Produsen baja lembaran panas (HRC) dan baja lembaran dingin (CRC) terbesar serta produsen batang kawat baja (WR) terbesar kedua di Indonesia selalu mencatatkan rugi. 

Pada 2012 KRAS rugi US$ 19,56 juta, tahun berikutnya atau 2013 rugi US$ 13,6 juta, 2014 naik menjadi US$ 154,185 juta. Rekor rugi KRAS tercatat pada 2015 dimana perusahaan tekor US$ 326,514 juta. Selanjutnya pada 2016, rugi KRAS menurun menjadi US$ 180,724 juta, 2017 US$ 86,09 juta. 

Pada 2018 rugi KRAS berada pada level US$ 167,5 juta. Sedangkan setelah pergantian direktur di Krakatau Steel pada September 2018 kepada Silmy Karim, rugi KRAS pada 2019 justru membengkak menjadi US$ 503 juta. Kondisi ini baru berbalik sejak pencatatan Desember 2020. 

 

Tancap Gas Subholding KRAS

Holding Krakatau Sarana Infrastruktur
Peresmian Holding Krakatau Sarana Infrastruktur

 

Salah satu katalisator perbaikan kinerja KRAS sepanjang 2021 ditopang oleh kinerja anak usaha dan efisiensi. Kinerja ini diperkirakan akan semakin moncer seiring telah diresmikannya PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) sebagai subholding. Peresmian dilakukan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir pada 13 Juli 2021 lalu. 

Subholding Krakatau Sarana Infrastruktur terdiri dari PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) yang merupakan induk subholding, PT Krakatau Daya Listrik (PT KDL), PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI), dan PT Krakatau Bandar Samudera (PT KBS). Perusahaan menargetkan, KIS akan IPO dan melantai di bursa mulai tahun depan. 

Subholding KSI yang selanjutnya akan menangani pengelolaan kawasannya terbesar di Indonesia ini akan bergerak di layanan kawasan industri terintegrasi. KSI bergerak dalam empat bidang utama yaitu  kawasan industri, penyediaan energi, penyediaan air industri dan pelabuhan. 

Menurut Silmy, pembentukan subholding sarana Infrastruktur akan memiliki fundamental positif dengan total pendapatan Rp 3,4 triliun pada 2020 dengan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun. Perusahaan menargetkan pada 5 tahun mendatang bisa membukukan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun. 

 

Kinerja Saham KRAS

Di lantai bursa, saham KRAS justru menunjukkan trend positif, berbanding terbalik dengan kinerja perusahaan. Pergerakan Saham KRAS di pasar modal mencatat raihan year to date saham KRAS hanya naik 7,69 persen dari Rp442 pada perdagangan 4 Januari 2021 menjadi Rp476 pada penutupan perdagangan Senin, 19 Juli 2021. 

Saham KRAS mencapai puncak tertinggi sepanjang semester 1/2021 pada 15 Januari 2021 dengan harga Rp775.Namun, Namun prestasi ini terus merosot. Pada pekan terakhir Juni, saham KRAS longsor dari Rp580 menjadi Rp490. 

Meski begitu harga saham KRAS di bursa pernah menyentuh Rp1.280 pada November 2013. Sedangkan untuk tahun berjalan harga tertinggi KRAS berada di Rp650 pada Februari 2021. 

Kinerja saham KRAS di lantai Bursa masih mungkin akan naik seiring rencana perusahaan melakukan penerbitan obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp800 miliar.paling lambat akhir tahun ini. Pada Desember 2020, KRAS juga  telah menerbitkan OWK seri A senilai Rp2,2 triliun. 

Dari lantai bursa, Bos KRAS, Silmy Karim tercatat rajin melakukan pembelian saham KRAS. Pada akhir Juni, Silmy berturut turut membeli saham KRAS dengan total  sebanyak 1,38 juta saham. Silmy  melakukan transaksi pembelian pada 23 Juni 2021 dan 24 Juni 2021 pada harga Rp 560, Rp 545, dan Rp 530 per saham.

Pada akhir Mei, Silmy juga tercatat membeli saham KRAS sebanyak 315 lembar saham dengan harga pelaksanaan pembelian Rp 635 per saham. Untuk pembelian itu, Silmy menggelontorkan dana Rp 200,02 juta

Dengan pembelian ini, SIlmy kini menjadi pemegang 2.854.300 lembar saham dengan persentase 0,015 persen. Jajaran Direksi lainnya yang juga menggenggam saham KRAS adalah Purwono Widodo dengan kepemilikan 132.500 lembar saham. 

Sebagai pemegang saham mayoritas, emerintah memegang 80 persen porsi perusahaan dengan 15,4 miliar lembar saham. Sedang masyarakat sebanyak 20 persen dengan 3,8 miliar lembar saham. 

 

Ira Guslina

Editor In Chief Tempias.com Hubungi saya di guslina@tempias.com

One thought on “Prospek Saham KRAS, Menakar Kinerja dan Arah Subholding Infrastruktur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@tempias.com .