Prospek Saham BBRI, dari Right Issue hingga Pembentukan Holding Ultra Mikro

Tempias.com, JAKARTA- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (IDX: BBRI) menggulirkan rencana untuk melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau Right issue. Rencana Right Issue akan disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Juli 2021 mendatang. 

Sekretaris Perusahaan, Aestika Driza Gunarto, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia menyatakan bahwa rencana RUPSLB telah disampaikan pada pemegang saham melalui berbagai kanal seperti website resmi perusahaan dan juga melalui pemberitaan media. RUPSLB BBRI akan dilaksanakan di Kantor Pusat BRI Jalan Jenderal Sudirman Kav. 44-46, Jakarta Pusat mulai pukul 14.00 WIB sampai selesai. 

“Rapat akan diselenggarakan dengan mata acara: Persetujuan atas Penambahan Modal Perseroan dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (“PMHMETD”) kepada para Pemegang Saham yang akan dilakukan melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas I (“PUT I”) dan oleh karenanya sekaligus mengubah Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) Anggaran Dasar Perseroan.” 

 

Baca Juga: Pilih Saham BBCA, BBRI, BMRI atau BBNI; Ini Rekomendasi dari Mirae Semester II/2021

 

Sebelumnya, BBRI telah mengumumkan akan melakukan right issue jumbo. Right Issue adalah  hak yang diperoleh para pemegang saham lama atau investor yang namanya telah terdaftar dalam daftar pemegang saham suatu perseroan. Jadi hanya pemegang saham BBRI yang boleh melakukan penawaran saham BBRI pada saat Right Issue. 

Right Issue BBRI ini juga dibarengi dengan rencana penyetoran saham dalam bentuk selain uang (Inbreng) oleh Negara Republik Indonesia selaku Pemegang Saham Pengendali (PSP) perseroan. 

Rencananya BRI akan melakukan rights issue dengan mengeluarkan maksimal 28,67 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp50 per saham. Beberapa analisis menyebutkan  total nilai right issue mencapai Rp95,6 triliun.  Nilai ini setara dengan 23,25 persen modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Dana yang terkumpul dari Right Issue BBRI ini akan digunakan untuk pembentukan holding ultra mikro. Rencananya Perseroan akan menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian Tbk dan PT Permodalan Nasional Madani (PMN) 

 

“Perseoran bersama Pegadaian dan PMN akan mengembangkan bisnis melalui pemberian jasa keuangan di segmen ultra mikro sehingga berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan perseroan.” 

 

Aestika menulis, manajemen juga berharap penguatan struktur permodalan diharapkan akan mendukung kegiatan perseroan ke depan baik induk maupun secara group. Penguatan diharapkan akan memberi value pada pemegang saham maupun pada pemangku kepentingan yang terlibat. 

 

BACA JUGA:  Update Cara Nabung, Mencairkan, hingga Cek Saldo Emas di Pegadaian

 

Selain untuk pembentukan Holding Utra Mikro, dana yang terkumpul dari right issue rencananya juga akan dialokasikan untuk modal kerja perseroan dalam rangka pengembangan ekosistem ultra mikro dan serta bisnis mikro dan kecil.

Pelaksanaan dua aksi korporasi yang telah disiapkan akan membuat BBRI  menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Hal ini menjadi bagian tak terpisahkan dari  pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro.

 

Prospek Saham BBRI 

Harga Saham BBRI
Harga Saham BBRI 10-15 Juli 2021

 

Rencana Right Issue dan pembentukan holding ultra mikro oleh BBRI mendapat apresiasi dari investor. Saham BBRI masuk dalam kategori saham aktif sejak awal hingga pertengahan Juli. 

Pada perdagangan Kamis, 15 Juli 2021, saham BBRI ditutup pada Rp3.810,- naik Rp100 dibanding penutupan hari sebelumnya. BBRI disebut menjadi salah satu emiten yang diborong asing. 

Rencana pembentukan holding Ultra Mikro melalui pengambilalihan Pegadaian dan PNM direncanakan akan dilakukan pada valuasi Rp 48,7 triliun dan Rp 6,1 triliun atau total Rp 54,8 triliun. Angka ini merujuk pada capaian perusahaan berdasarkan data kuartal pertama 2021.

Berdasarkan data perusahaan, pada 31 Maret 2021, Pegadaian dan PNM memiliki total aset sebesar Rp 107,5 triliun atau setara 7,6 persen aset BBRI. Total ekuitas berada di angka Rp 31,3 triliun atau setara 16,1 persen total ekuitas BBRI.

 

BACA  JUGA: Mengintip Saham Dekapan Gojek- Tokopedia (GoTo) Jelang IPO

 

Trend positif harga saham BBRI ini menurut sejumlah analisis akan terus berlanjut mengingat rencana pembentukan Holding Ultra Mikro yang sudah digulirkan. Hal ini merujuk pada pengalaman peningkatan harga saham BRI Syariah (BRIS) setelah adanya merger tiga bank syariah menjadi Bank Syariah Indonesia dengan kode ticker merujuk BRIS. 

Sepanjang Juli 2021, harga saham BBRI tertinggi terjadi pada 2 Juli dengan harga Rp3.990.  Pada perdagangan Kamis, 15 Juli 2021 harga saham BBRI ditutup pada Rp3.810. Angka ini diprediksi akan terus tumbuh di atas Rp4.000,- 

Saham BBNI

Sebelumnya, Handiman Soetoyo,dkk, analisis Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengatakan BBRI merupakan salah satu perusahaan layak koleksi hingga akhir tahun ini. Akuisisi Pegadaian dan PNM akan menjadi pendorong pertumbuhan BBRI pada sektor pinjaman ultra-mikro yang menguntungkan, Saat ini ada 63 juta bisnis mikro yang menyumbang 99 persen dari total bisnis di Indonesia.

 

“Saat ini kami memperkiraan pendapatan FY21F di Rp29,9 triliun tetapi  ada kemungkinan kami akan merevisinya setelah hasil penilaian kualitas pendapatan pada 2Q21 dengan mempertimbangkan pandemi COVID-19 yang berkepanjangan ini.” 

Saat ini, rencana Right Issue BBRI masih menunggu hasil RUPS. Investor harus terus mencermati kinerja perseroan dan berapa harga yang akan dilepas perusahaan saat right issue nanti. Investor perlu mencermati harga kewajaran yang kayak bila ingin mendapatkan cuan dengan mengoleksi saham BBRI. 

Sedangkan pembentukan Holding Utra Mikro sudah hampir rampung. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2021 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI. 

Terbitnya PP Nomor 73 tahun 2021 ini akan menjadi payung hukum Pembentukan Holding Ultra Mikro untuk tiga entitas BUMN, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia selaku induk holding, PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Menteri BUMN, Erick Thohir menargetkan pembentukan Holding Utra Mikro akan rampung pada akhir kuartal III 2021. ***

Ira Guslina

Editor In Chief Tempias.com Hubungi saya di guslina@tempias.com

Untuk mengcopy teks yang dibutuhkan hubungi marketing@tempias.com .