Prospek Saham KKGI, Bidang Usaha & Profil Resource Alam Indonesia

Tempias.com – PT Resource Alam Indonesia Tbk. (KKGI) mengumumkan persiapan memasuki bisnis nikel. Langkah itu ditandai dengan melakukan pengikatan jual beli (PJB) saham PT Buton Mineral Indonesia dan PT Bira Mineral Nusantara. 

PJB Saham ini ditandatangani pada 15 Januari 2021 dengan target akuisisi 70 persen masing-masing perusahaan. Untuk PJB ini, KKGI membayar biaya masing-masing sebesar Rp 175.000. 

“Alasan dilakukan pembelian saham untuk persiapan ekspansi pada bisnis tambang nikel,” tulis Agoes Soegiarto S, Direktur Resource Alam Indonesia dalam surat bertanggal 15 Januari 2021 kepada Bursa Efek Indonesia. 

Lalu apa bidang usaha Resource Alam Indonesia (KKGI) sehingga memutuskan ekspansi ke bisnis nikel bersaing dengan  Antam (ANTM) hingga Vale Indonesia (INCO). 

 

BACA JUGA : Prospek Saham EDGE, Bidang Usaha & Profil Indointernet

 

Dalam materi publik expose yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia pada akhir 2020, KKGI merupakan perusahaan pertambangan batu bara. Perusahaan merupakan perusahaan induk dengan kuasa pertambangan dimiliki anak usaha. Selain itu perseroan juga memiliki sejumlah bisnis listrik pembangkit mini hydro yang tersebar di sejumlah wilayah di Tanah Air. 

Resource Alam Indonesia (KKGI) sebagai perusahaan batu bara dan pembangkit listrik mini hydro beralamat di Bumi Raya Group Building, Jalan Pembangunan I No. 3 Jakarta Pusat.

Anak usaha KKGI yang menjalankan tambang batu bara yakni:  

  • Insani Baraperkasa (kepemilikan 99,9 persen)

Perusahaan tambang batu bara ini pemegang konsesi  PKP2B Generasi III, di Kalimantan Timur. Wilayah tambang yang digarap mencapai 24,477,6 Ha. Konsesi dalam tahap produksi ini memiliki cadangan terukur 160.77 juta MT.

  • Loa Haur (kepemilikan 60 persen) 

Izin tambang Loa Haur dalam grup KKGI adalah IUP Operasi Produksi. Tambang batu bara ini terletak di Kalimantan Tengah dengan Area Konsesi 5.000 Ha. Cadangan Terbukti tambang Loa Haur adalah 12 juta MT, 

  • Kaltim Mineral (kepemilikan 75 persen)

KKGI memiliki IUP Eksplorasi untuk tambang di Kalimantan Timur ini. Total Area Konsesi mencapai 10.000 Ha dengan cadangan batu bara terbukti 34 juta MT. 

Sedangkan dalam pembangkit listrik mini hydro, KKGI telah melakukan perikatan jual beli dengan PLN melalui PT. Khatulistiwa Hidro Energi (kepemilikan 43 persen). Sub holding listrik ini memiliki 99 persen saham PT. Bias Petrasia Persada untuk pembangkit di Cicatih, Jawa Barat dan sudah beroperasi sejak Oktober 2019. Pembangkit di lokasi ini sebesar 2×32 MW.

 

BACA JUGA : Saham SIDO, Prospek Investasi Jangka Panjang & Profil Affinity Equity Partners

 

Pemegang saham KKGI sendiri per 31 Desember 2020 terdiri dari PT Sejahtera Jaya Cita (25,52 persen), LG International Pte.Ltd (5 persen), UBS AG Singapore S/a Energy Collier Private Limited (26,37 persen), Resource Alam Indonesia (6,13 persen) sedangkan sisanya sekitar 29 persen dimiliki publik.

Laporan tahunan perseroan mencatat pemegang saham terakhir perusahaan adalah keluarga Adijanto. Keluarga ini memiliki saham KKGI melalui PT Sejahtera Jaya Cita (25,52 persen), LG international (S’pore) Pte Ltd (5 persen) serta UBS AG Energy Collies Private Limited (26,37 persen). 

Dengan demikian, dalam laporan tahunan itu, Pintarso Adijanto sebagai Direktur Utama dan Swandono Adijanto memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan. Komisaris utama dalam perusahaan ini adalah Hendro Martowardojo saudara Mantan Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo. 

Resource Alam sendiri didirikan oleh salah satu konglomerasi era Presiden Soeharto yakni Grup Rain dengan pendahulu Adijanto Priosoetanto. Pengusaha kayu yang memulai bisnisnya sejak 1960 di Pontianak. 

Konglomerasi ini adalah pemilik Bank Bumi Raya yang akhirnya tutup akibat krisis moneter 1998. Konglomerasi ini juga pemilik Global Palm Resources Holdings Ltd, yang melantai di Bursa Efek Singapura.

 

BACA JUGA : Cara Investasi Saham Untuk Pemula

 

Produksi batu bara Resource Alam Indonesia (KKGI) hingga September 2020 sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor dengan perincian India (41 persen), China (12 persen), Vietnam (9 persen), Thailand (11 persen), Korea (3 persen). Sedangkan 24 persen lainnya adalah kewajiban DMO untuk pasar domestik.

KKGI sendiri terlibat dalam proyek penghiliran batu bara. Melalui PT. Insani Baraperkasa, perseroan telah menandatangani Perjanjian Kerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara yang diwakili oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada tanggal 02 November 2020 guna melakukan kajian hilirisasi batubara dengan melakukan Pengembangan terhadap teknologi UCG untuk menghasilkan invensi, inovasi, penguasaan teknologi baru.

KKGI mulanya bernama PT Kurnia Kapuas Utama Glue Industries (KKGI). Perusahaan ini  menjalankan kegiatan usaha produksi lem adhesif kayu sejak 1981. Kurnia kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melalui Penawaran Umum Perdana (IPO) pada 1991. Aksi korporasi ini berhasil meraih dana sebesar Rp25,65 miliar untuk ekspansi bisnis. Sejak saat itu, saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham “KKGI”. 

Selanjutnya, seiring semakin fokusnya perusahaan pada bisnis batu bara, maka pada 2003 dilakukan pergantian nama perseroan menjadi PT Resource Alam Indonesia Tbk. Ini sekaligus konsolidasi bisnis setelah diterjang krisis moneter 1998.

Dalam laporan tahunan 2019, KKGI tidak membayarkan dividen pada tahun buku 2019. Meski begitu pada 2018 perusahaan membayar dividen Rp 2 per lembar. Jumlah ini setara dengan dividend payout ratio 5,5 persen.

Harga saham KKGI sendiri sempat mencatatkan rekor tertingginya pada Rp 1.670 per lembar saham pada 2012 (harga setelah stock split 1;5 pada 2017) untuk kemudian terus meluncur turun menjadi Rp 304 dalam penutupan perdagangan Jumat, 5 Februari 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *