Saham SIDO, Prospek Investasi Jangka Panjang & Profil Affinity Equity Partners

Tempias.com – Perusahaan obat dan jamu terintegrasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) resmi kedatangan investor baru yakni Affinity Equity Partners. Firma ini menggenggam 20 persen saham SIDO dengan mengurangi kepemilikan PT Hotel Candi Baru. Perusahaan induk yang dimiliki Keluarga Hidayat, pendiri SIDO. 

Affinity adalah firma investasi yang berkantor pusat di Singapura. Tang Kok-Yew, Chairman & Managing Partner dari Affinity Equity dalam website perusahaan menyebutkan firma yang ia kelola memiliki aset sebesar 14 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 196 triliun. 

Para pengelola Affinity adalah mantan bankir investasi dari UBS AG, Swiss. Lini ini kemudian memisahkan diri. UBS AG sendiri salah satu investor terbesarnya adalah SWF Singapura yakni Government of Singapore Investment Corporation (GIC). 

Dalam sambutannya pada laman perusahaan, Tang Kok-Yew menyebutkan hanya berinvestasi pada perusahaan dengan tujuan untuk menjadikan Affinity sebagai salah satu pengendali. 

“Tetapi kami akan memberikan pertimbangan pada investasi minoritas dengan selektif,” tulis Tang Kok-Yew dalam sambutannya. 

 

BACA JUGA : Update Daftar Saham Blue Chip 2021 dan Bidang Usahanya

 

Selain itu, dalam strategi investasi, Affinity akan menjadi investor paling sedikit 4-6 tahun sebelum memutuskan untuk keluar. 

“Model investasi kami yang sukses melibatkan kerja sama yang erat dengan manajemen perusahaan portofolio, biasanya sebagai mitra dan pemilik bersama, dan cakrawala investasi kami adalah jangka panjang,” tulisnya dalam sambutan yang sama. 

SIDO sendiri diketahui telah memasukkan dua pengurus dari Affinity sebagai komisaris independen. Para komisaris itu adalah Ronnie Behar yang juga Partner and Head of Southeast Asia dari Affinity Equity Partners. 

Komisaris lain adalah Eric Marnandus. Alumnus  Operations Research di Cornell University dan Master of Business Administration di the University of California  itu juga Executive Director di PT Affinity Equity Partners Indonesia.

Firma investasi ini menjadi pemegang saham baru SIDO dengan kepemilikan 21 persen. Affinity menebus saham SIDO seharga Rp 720 per lembar atau sekiar Rp 4,5 triliun. 

Harga saham SIDO sejak IPO./Grafik: Google Finance

 

Sejarah SIDO

Berdasarkan pasal 3 Anggaran Dasar terakhir Perseroan dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk No.02 tanggal 9 April 2019, ruang lingkup kegiatan usaha Sido Muncul adalah Industri Pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran, Aktivitas Kesehatan Manusia, Kesenian, Hiburan dan Rekreasi, Pertanian, Pengolahan Limbah, Aktivitas Profesional, Ilmiah dan Teknis.

Sido Muncul sendiri secara hukum terbentuk pada 1970 dengan badan hukum CV. Meski begitu, perusahaan telah hadir jauh sebelum itu. Tepatnya sejak 1930-an sebagai usaha rumahan.  Kala itu, sang pendiri yakni Ibu Rahmat Sulistio merintis dengan tiga orang karyawan di Yogyakarta. Beberapa tahun kemudian produk unggulan perusahaan yakni Jamu Tolak Angin mulai diperkenalkan pada 1940. 

Suasana perang membuat produksi sempat terhenti. Lalu pada 1951 setelah hijrah ke Semarang, sebuah pabrik jamu sederhana didirikan di jalan Mlaten Trenggulun, Semarang, dengan nama “Sido Muncul” yang artinya “impian yang terwujud”. Pabrik ini melakukan inovasi dengan menciptakan jamu serbuk sehingga meningkatkan jangkauan distribusi hingga lama penyimpanan. 

Pabrik di Semarang ini terus berkembang. Pada 1984, Sido Muncul memindahkan lokasi pabrik ke Lingkungan Industri Kecil di Jalan Kaligawe, Semarang, Jawa Tengah. Pabrik yang baru dibangun tersebut telah menggunakan mesin-mesin modern dengan jumlah karyawan yang terus bertambah seiring dengan peningkatan kapasitas produksi.

 

BACA JUGA : Daftar Saham Milik Asabri 2021 dan Bidang Usahanya, dari Bank Neo (BBYB), FIRE Hingga ASJT

 

Fasilitas produksi terus meningkat. Pada 1997 pabrik seluas 30 hektar disiapkan di Klepu, Kecamatan Bergas, Ungaran, Jawa Tengah. Luas bangunan pabrik adalah sekitar 8 hektar dan sisanya menjadi kawasan pendukung lingkungan pabrik. 

Pada 2018 dengan dukungan pembiayaan Affinity, Sido Muncul kemudian merampungkan pembangunan pabrik Cairan Obat Dalam II (COD II) dengan kapasitas produksi sekitar 100 juta sachet per bulan yang telah beroperasi penuh pada 2019 lalu.

 

KINERJA SAHAM

Untuk menghindari perpecahan keluarga dan membawa perusahaan semakin profesional, SIDO kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pencatatan dilakukan pada 2013 dengan melepas 1,5 miliar lembar saham atau setara 10 persen. Harga pelaksanaan IPO adalah Rp 580 per lembar. Aksi itu membuat SIDO memiliki tambahan dana segar setara Rp 870 miliar. 

Setahun kemudian atau 2014 perusahaan mencaplok PT Berlico Mulia Farma. Perusahaan farmasi ini berpusat di Yogyakarta dan beroperasi sejak 1993. Berlico memiliki izin memproduksi 80 produk obat resep (ethical) dan obat bermerek (OTC). Akuisisi ini bernilai Rp 124,99 miliar.

Saham SIDO sendiri terus menanjak naik sejak IPO perdana. Investor menilai positif kinerja perusahaan karena kebijakan dividend payout ratio (DPR) yang selalu di atas 80 persen. Meski laba yang dibagi selalu di atas 80 persen. Dividend yield saham SIDO relatif kecil yakni di bawah 5 persen. 

Harga saham SIDO kemudian mencapai rekor Rp 1.495 pada perdagangan Jumat, 11 September 2020. Harga ini kemudian menjadi acuan stock split saham SIDO dengan rasio 1;2. Dengan rasio ini maka jumlah saham beredar dari SIDO menjadi 3 miliar lembar. 

Dividend payout ratio adalah besaran laba bersih tahun berjalan yang dibagi kepada pemegang saham. Sedangkan besaran dividend yield adalah dividen per lembar saham dibagi dengan harga saham di pasar. 

Bloomberg mencatat untuk tahun buku 2020, dividen SIDO berkisar 3,25 persen dengan pelaporan dividen terakhir sebesar Rp 12,5 per lembar saham. Dengan harga saham Rp 780 per lembar pada sesi 1 perdagangan Kamis 4 Februari 2021 maka harga saham SIDO setara Rp 1.560 bagi investor yang menggenggam perusahaan sejak IPO. Naik 168,96 persen dalam 7 tahun terakhir. 

Sebelum Affinity tercatat sebagai pemegang saham, pada pemilik saham SidoMuncul terdiri dari PT Hotel Candi Baru dengan kepemilikan 81 persen dan masyarakat 18,2 persen.

Dengan masuknya firma investasi ini maka kemungkinan besar kepemilikan saham Sidomuncul terbagi menjadi Hotel Candi Baru sebesar 60-an persen, masyarakat 18,2 persen dan  Affinity sebesar 21 persen.

Jadi, setelah masuknya Affinity, Saham SIDO cocok untuk investasi saham jangka panjang? Selamat berhitung.

5 thoughts on “Saham SIDO, Prospek Investasi Jangka Panjang & Profil Affinity Equity Partners

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *