Prospek Saham TBLA: Dividen, Bidang Usaha & Profil Tunas Baru Lampung

Tempias.com – PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha utama olahan sawit dan gula. Emiten ini tengah menjadi perbincangan investor. 

Pasalnya, TBLA yang berkantor pusat di Wisma Budi Lt. 8-9 Jl. HR. Rasuna Said Kav.C-6 Jakarta Selatan itu dikunjungi investor individual kawakan Lo Kheng Hong yang terlihat sedang foto bersama. Meski kemudian diketahui foto itu diambil pada 2019 lalu.

Sontak saja, foto Lo yang dijuluki Warren Buffett Indonesia di Kantor TBLA menarik perhatian publik untuk memahami lebih jauh bidang usaha entitas dari Sungai Budi Group ini.

Pasalnya Lo Kheng Hong dikenal berinvestasi pada perusahaan dengan fundamental yang kuat. Lalu bagaimana prospek TBLA?

Dalam laporannya ke Bursa Efek Indonesia untuk materi paparan publik untuk kinerja September 2020 lalu, TBLA mencatatkan bidang usaha perusahaan terdiri dari olahan kelapa sawit dan gula. 

 

BACA JUGA : Saham SIDO, Prospek Investasi Jangka Panjang & Profil Affinity Equity Partners

 

Produk TBLA ini cukup banyak beredar di sekitar kita yakni Minyak Goreng Rose Brand dan Gula Premium Rose Brand. Kedua produk ini diproduksi melalui anak usaha. PT. Adi Karya Gemilang produsen Gula Rose Brand misalnya, kepemilikannya oleh TBLA di atas 99,8 persen. 

Perinciannya, untuk periode September 2020, gula menyumbang 31 persen pendapatan perseroan, selanjutnya minyak goreng rose brand sebesar 28 persen. 

Pemegang saham pengendali Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA)

 

Selebihnya adalah olahan sawit yang terdiri dari FAME (26 persen), stearine (5 persen), sedangkan di bawah 3 persen seperti palm kernel oil, bungkil sawit, mentega hingga glycerin. Bisnis TBLA 79 persen bergantung pada pasar lokal dan 21 persen lainnya ekspor.

Dalam laporannya ke KSEI, pemegang saham TBLA di atas 5 persen per 31 Desember 2020  terdiri dari PT Sungai Budi dengan kepemilikan 28,08 persen dan Budi Delta Swakarya dengan kepemilikan 27,18 persen. 

Sementara dalam laporan tahunan 2019, tercatat pemegang saham terakhir dari TBLA adalah Widarto dan Santoso Winarta. Kedua pengendali TBLa ini berada di balik Sungai Budi dan Budi Delta Swakarya. 

Widarto menjalankan peran sebagai Presiden Direktur di TBLA. Sementara Santoso Winarta adalah Komisaris Utama. Kongsi ini menyebut usaha mereka dalam Sungai Budi Group.

Selain TBLA, duo taipan ini memiliki saham tercatat lainnya yakni PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI) emiten yang dahulu bernama PT Budi Acid Jaya Tbk. 

TBLA sendiri mulai beroperasi pada 1975 dengan fokus minyak goreng. Tunas Baru kemudian mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2000. 

 

BACA JUGA : Profil Ridha DM Wirakusumah, Calon Bos SWF Indonesia dari Permata (BNLI)

 

Selain di Lampung, perusahaan ini memiliki pengolahan di Jawa Timur, Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan. Pabrik yang dijalankan ini mendapatkan pasokan bahan baku dari kebun milik sendiri yang terdiri dari 49.681 hektar di Sumatera dan 57.297 hektar di Kalimantan. Kedua lahan ini sekitar 80 persen telah menghasilkan buah sawit. 

Dijelaskan perseroan dalam laporan tahunannya, kebijakan dividen TBLA adalah jika mendapatkan laba sampai dengan Rp 500 miliar maka rasio dividen yang akan dibayarkan sebanyak 30 persen. 

Untuk laba di atas Rp 500 miliar maka dividend payout ratio yang dibayarkan adalah 40 persen. 

Dalam pembayaran dividen 5 tahun terakhir atau 2014 sampai 2019, harga saham rata-rata TBLA berada dalam rentang Rp 530 sampai Rp 1.225 per lembar saham. Dengan posisi ini dividend yield yang diterima investor secara berurutan dari 2014 sampai 2019 yakni 4 persen, 2 persen, 5 persen, 6 persen, 3 persen dan 3 persen. 

 

BACA JUGA  : Update Aplikasi Trading Saham Terdaftar OJK 2021, Milik 10 Broker Teraktif

 

Sedangkan mulai awal 2021 hingga 4 Februari ini, saham TBLA tercatat terus mengalami pelemahan. Setelah di tutup Rp 1.010 dalam perdagangan 4 Januari 2021, dalam penutupan perdagangan hari ini saham TBLA berada pada level Rp 920 per lembar saham atau menguat 1,66 persen. 

Jadi, setelah kode masuknya Lo Kheng Hong ke Saham TBLA, emiten ini cocok untuk investasi saham jangka panjang? Selamat berhitung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *