Profil Ridha DM Wirakusumah, Bos SWF Indonesia dari Permata (BNLI) Pilihan Jokowi

Tempias.com – Nama Ridha DM Wirakusumah akhirnya diumumkan Presiden Joko Widodo sebagai CEO sovereign wealth fund (SWF) Indonesia. 

Dalam lembaga bernama Indonesia Investment Authority itu, awalnya nama CEO Bank Permata (BNLI) ini bersaing kuat dengan nama lain seperti Tigor Siahaan, Arief Budiman, serta disebut-sebut Komisaris Bursa Efek Indonesia Pandu Sjahrir. 

Lalu siapa Ridha DM Wirakusumah? Laporan tahunan Bank Permata (BNLI) mencatat karirnya dalam jajaran manajemen dimulai sebagai diaspora Citibank.  Posisi Ridha dalam Citibank adalah Vice President Corporate Banking Group Head di Citibank Jakarta (1987-1993).

Citibank pada era itu dikenal sebagai kawah candradimuka bankir karena pendidikannya yang kuat. Pada satu era para bankir top di Indonesia berasal dari bank ini.

 

BACA JUGA  : Profil Darwin Cyril Noerhadi, Dewan Pengawas SWF Indonesia Pilihan Sri Mulyani

 

Setelah menjadi bankir selama 10 tahun di bank asal Amerika Serikat itu, ia memulai petualangan karirnya dengan menjadi Head of Corporate Finance di Bankers Trust Jakarta (1993-1995). 

Bankers Trust adalah perusahaan dalam perwalian JP Morgan. Mereka menjalankan usaha memberi pinjaman kepada bank, menerima penyimpanan kelebihan likuiditas hingga pengelolaan kekayaan. 

Berkarir 2 tahun dalam perusahaan ini, Ridha melanjutkan perjalanannya sebagai bos untuk perusahaan Amerika Serikat lainnya yakni President and CEO Asia Pacific di General Electric Consumer Group Company. Ia sekaligus menjalankan peran Banking Head Asia Pacific dalam perusahaan yang dikenal dengan penemuan-penemuan yang mengagumkan ini. Di GE, Ridha berkarir cukup panjang yakni dari 1995-2006.

Ia kembali hijrah dengan menjadi d CEO AIG Consumer Finance, Hong Kong (2006-2008). Berkarir 2 tahun dalam perusahaan asuransi dari Amerika Serikat itu, ia kemudian pulang ke Tanah Air bergabung dengan Khasanah Malaysia yang membeli PT Bank Internasional Indonesia Tbk. (BNII) dari Temasek Singapura.  

Ridha hanya bertahan 2 tahun dalam bank ini. Ia kemudian kembali ke Hongkong dengan menjabat Direktur utama Kohlberg Kravis Roberts (KKR) Hongkong dalam rentang 2011-2014. 

 

BACA JUGA : Profil Stefanus Ade Hadiwidjaja, Direktur Investasi SWF Indonesia Pilihan Jokowi

 

KKR adalah perusahaan investasi raksasa global. Di Indonesia, KKR memiliki rentang investasi di PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), pabrik Sari Roti yakni PT Nippon Indosari Corpindo Tbk., (ROTI) serta menyuntik modal PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek). Perusahaan ini beberapa waktu lalu juga membeli margarin Blueband dari Unilever (UNVR). 

Ia kemudian hengkang dari raksasa investasi itu dengan beralih jabatan sebagai managing partner ke perusahaan investasi lainnya yakni DNB Consulting and Investments Hong Kong (2014-2016). Sebagai managing partner DNB, Ridha juga mengurus sejumlah perusahaan yang diinvestasi yakni sebagai anggota Dewan Komisaris PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (2014-2016), anggota Dewan Komisaris Postcard and Tag Hong Kong (2015-2016), dan anggota Dewan Komisaris PT Bayan Resources Tbk (2016). 

Lepas dari DNB, pemilik gelar Bachelor of Science (1985) dan Master of Business Administration (1987) Ohio University ini kemudian berlabuh ke Bank Permata (BNLI) dan memimpin aksi penjualan perusahaan.

PT Astra International Tbk (ASII) bersama mitranya Standard Chartered Bank Plc. terus berupaya keluar dari bank ini namun tak kunjung menemukan penawaran yang tepat. 

Ridha yang menyelesaikan pendidikan doktor Business Administration dari City University Hong Kong pada tahun 2016 itu kemudian berhasil menggaet Bangkok Bank dan menuntaskan akuisisi itu pada 2020 lalu. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *