Drama Startup 2020: IPO di Depan Mata?

TEMPIAS.com – Putaran pendanaan bagi stratup Tanah Air terus berdatangan. Terbaru, Bukalapak mendapatkan pendanaan dari Mircrosoft. Meski sumber resmi tidak menyebutkan besaran dana yang ditanaman perusahaan besutan Bill Gates itu, angka Rp1,4 triliun atau sekitar US$ 100 juta disebut-sebut disematkan dalam aksi itu untuk Bukalapak.

Terus menggelembungnya valuasi startup di Indonesia membuat banyak kalangan mendorong perusahaan segera melantai di bursa. Unicorn seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak hingga Traveloka dinilai sudah saatnya memberikan keuntungan bagi investornya dengan mengubah valuasi menjadi keuntungan.

Lalu kapankah saat pandemi seperti ini waktu yang tepat bagi perusahaan teknologi melantai di Bursa Efek Indonesia?

Fajrin Rasyid, Direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia (persero) Tbk (TLKM) dalam kolomnya di laman Uzone.id menyebutkan berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2020 tercatat ada 3 juta investor pasar modal. Saat yang sama Bursa Efek Indonesia (BEI) menawarkan fasilitas kemudahan bagi perusahaan yang hendak IPO.

Menurutnya, meski ada kemudahan startup yang hendak IPO sebaiknya adalah perusaaan dengan industri yang terpengaruh secara positif oleh pandemi

“Pandemi memang membawa dampak yang kurang baik terhadap beberapa industri seperti pariwisata dan penerbangan. Namun, pandemi ternyata mempercepat digitalisasi di berbagai bidang,” ulas Fajrin.

Menurut pendiri Bukalapak itu banyak e-commerce yang melaporkan pertumbuhan yang tinggi di era pandemi ini.

“Data dari Telkom dan Telkomsel pun menunjukkan adanya peningkatan aktivitas online dibandingkan dengan sebelum pandemi,” ulasnya.

Startup yang mendapatkan peningkatan pendapatan di tengah pandemi di antaranya e-commerce, online education, logistics, dan healthcare.

Syarat lainnya yakni unit bisnis tetap tumbuh.  “Meskipun startup tidak berasal dari industri yang tumbuh pesat di saat pandemi, startup tersebut masih dapat berpeluang untuk IPO, asalkan dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki pertumbuhan yang sehat, khususnya dari sisi unit economics.

Fajrin menilai efek bakar uang yang membuat perusahaan tumbuh dengan cepat telah dikurangi di tengah pandemi. Pemilik strat up tengah menseleksi bisnis yang ada agar mampu melewati era sulit ini.

“Startup yang dapat menunjukkan profitabilitas atau setidaknya proyeksi menuju profitabilitas akan memiliki peluang yang baik. Di luar dari kedua hal di atas, kemungkinan untuk IPO juga akan dipengaruhi oleh persepsi akan seberapa lama pandemi ini akan berlangsung,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *