Apa Itu Skizofrenia? Ini 3 Fase Perjalanan Klinis dan Ciri-cirinya

TEMPIAS.com – Halusinasi yang diidap oleh Isabella Guzman, remaja asal Colorado, Amerika Serikat yang menikam ibu kandungnya hingga 151 kali pada 2013 mengingatkan bahwa skizofrenia bukan perkara yang boleh diremehkan.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi, dan tidak mampu berperilaku dengan baik.

Psikolog RS Ciputra Hospital CitraGarden City, Meiske Yunithree Suparman, M.Psi., menyebutkan Skizofrenia membutuhkan diagnosis oleh ahli karena harus mengikuti kriteria diagnostik tertentu.

Secara umum pengidap skizofrenia memiliki 3 tingkatan klinis. yakni:
1. Fase prodromal,
Pada Fase prodromal, pengidap Skizofrenia baru memasuki fase. Gejala Skizofrenia fase prodromal terlihat dari gejala menarik diri dari lingkungan, konflik di tempat kerja, kesulitan berhubungan sosial, kurang mampu menjaga kebersihan diri.

Mengalami kondisi ini maka harus dilakukan intervensi medis. Pasien dengan gejala Skizofrenia fase prodromal tingkat pulihnya lebih memungkinkan. Dengan penanganan yang tepat pasien skizofrenia bisa hidup mandiri dan aktif di tengah masyarakat.

2. Skizofrenia Fase Aktif,
Dalam kondisi ini, pasien Skizofrenia ditandai dengan kekacauan alam pikir, perasaan, tingkah laku. Pasien juga kesulitan membedakan kenyataan versus yang tidak nyata sehingga bicara menjadi sulit dipahami.

3. Skizofrenia Fase Residual,
Pasien Skizofrenia yang mengalami pengobatan ada kemungkinan fase residual, yaitu fase sisa dengan gejala-gejala lanjutan, seperti halusinasi atau waham (keyakinan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan), menarik diri, afek tumpul atau datar serta gejala lainnya namun tidak menonjol. Pada sebagian besar kasus, gejala-gejala di atas seringkali terlihat tumpang tindih pada fase yang berbeda.

Meiske dalam rilis yang disampaikan Sequis menyebutkan gangguan skizofrenia tidak memandang usia, gender, atau status ekonomi. Namun, gejalanya lebih banyak terdeteksi pada saat usia remaja atau dewasa awal. Penyebabnya pada usia tersebut banyak permasalahan yang mungkin belum mampu terselesaikan sehingga mental cenderung mudah rapuh.

Bila skizofrenia sudah terdeteksi sejak dini, Meiske menyarankan agar segera dirujuk ke psikiater atau psikolog untuk mendapatkan penatalaksanaan penanganan lebih lanjut.

“Gangguan skizofrenia merupakan suatu perjalanan panjang bagi mereka yang mengalaminya. Penanganan harus dilakukan sedini mungkin agar tidak terlambat, terlebih kemungkinan terjadinya kesembuhan akan lebih tinggi jika ditangani sejak dini,” katanya.Untuk itu, Meiske berharap agar masyarakat mulai peduli pada permasalahan gangguan jiwa. Cara sederhana dengan mengenali gejalanya, tidak melakukan perundungan, jangan jauhi dan memberikan label buruk.

“Bantu mereka (pengidap skizofrenia) mencari pertolongan ke ahlinya,” kata Meiske.

Menurutnya, keluarga juga merupakan faktor penting keberhasilan penanganan pengidap skizofrenia. Ia menyarankan agar keluarga dapat mencari dukungan dengan bergabung bersama komunitas-komunitas pengidap ataupun keluarga pengidap skizofrenia.

“Permasalahannya adalah banyak orang enggan untuk memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater karena takut di-cap gila dan kendala biaya yang tinggi sehingga orang cenderung mengabaikan dan menutup-nutupinya,” kata Ivan Christian Winatha, Branding and Communication Strategist Sequis

Menutup diskusinya bersama Meiske, Ivan mengajak para milenial untuk menjadikan hari kesehatan jiwa sedunia sebagai momen untuk meningkatkan literasi kesehatan jiwa. “Karena gangguan jiwa dapat terjadi pada siapa saja dan dampaknya bukan saja pada soal kejiwaan tapi juga dapat menganggu finansial pasien dan keluarganya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *