OVO Garap Segmen Syariah hingga Strategi Mengejar Laba

Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO  Layanan uang digital OVO yang dikelola oleh PT Visionet Internasional. Salah satu Unico...

Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO 


Layanan uang digital OVO yang dikelola oleh PT Visionet Internasional. Salah satu Unicorn yang didirikan oleh kelompok bisnis Lippo Group menargetkan memperoleh laba pada usianya yang keenam atau paling lambat kesepuluh. Perusahaan mengandalkan ekosistem keuangan terpadu mulai dari investasi di reksadana hingga surat hutang negara. Juga bersiap membantu ekosistem keuangan syariah.

Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur OVO memberikan wawancara kepada awak media setelah menemui Wakil Presiden Ma'ruf Amin di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Kamis (5/12/2019). Berikut petikan lengkapnya:

Bertemu Wakil Presiden, apa yang dibahas?
Kami melaporkan perkembangan ovo dan juga memohon arahan dari Pak Wapres untuk dua hal. Yang pertama bagaimana perusahaan dan teknologi pembayaran elektronik seperti OVO bisa membantu seperti seputar Usaha Kecil dan menengah. Juga ekonomi kerakyatan serta juga untuk mendorong perekonomian umat, khususnya ekonomi syariah.

Bentuk dukungan ekonomi syariah ini seperti apa?
Tadi kami melaporkan bahwa di OVO selain ada uang elektronik juga ada financial service. Salah satunya, yang kita lihat bagaimana sudah terjadi pertumbuhan yang sangat cepat dari penetrasi reksa dana syariah dan juga SUKUK dengan memanfaatkan teknologi keuangan.

Saya sampaikan bahwa kalau kita lihat industri reksa dana itu dalam 4 tahun terakhir tumbuh 600 persen. Padahal sebelumnya tumbuh kecil sekali. Itu karena didorong oleh adanya pemanfaatan dari teknologi.

Dari pertumbuhan 600 persen itu, 30 persen dari industri reksa dana kita sekarang sudah dikontribusikan oleh reksa dana syariah.

Hal yang sama kita lihat dari pertumbuhan dan penetrasi obligasi pemerintah untuk segmen ritail. Bukan hanya di surat hutang SBN tetapi disegmen sukuk [surat hutang syariah negara]. Padahal sebelumnya, SBN-Sukuk itu sulit sekali diakses oleh umat.

Lalu Peran apa yang akan diambil OVO dengan aplikasinya untuk ekonomi berbasis syariah ini?

Jadi kami diperintahkan dan diarahkan pak Wapres, bagaimana kami juga untuk mendukung program-program yang nanti dipimpin oleh beliau khususnya untuk bagaimana mensinergikan antara perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga keuangan konvensional termasuk dengan yang berbasiskan teknologi seperti ovo guma mendorong ekonomi kerakyatan dan mendorong ekonomi syariah.

Program terkait syariah dalam jangka dekat yang akan dijalankan?
Kami diminta untuk menghadiri ada satu yang berkaitan dengan upaya untuk [pengelolaan] wakaf. Pak Wapres menyampaikan bahwa sebetulnya potensi social fund dari yang ada di lingkup umat Islam besar, beliau tadi menyampaikan baru 3 persen dari total potensinya yang terkelola.

Kami sampaikan barangkali OVO bisa ikut membantu. Tapi ini [mengelola wakaf melalui aplikasi] itu betul-betul bukan bisnis buat kami. Kami hanya ikut mendorong, membantu karena dalam pengalaman ini semua [akses pengelolaan wakaf] sebetulnya masalahnya adalah di akses. Nah begitu kita menyediakan akses, yang mudah, yang user friendly, itu biasanya seperti yang tadi saya sampaikan itu terjadi pertumbuhan yang sangat cepat

Terkait bisnis, disebutkan industri reksadana tumbuh 600 persen, bagaimana dengan kelolaan reksadana OVO?
Kalau sekarang, dalam ekosistem kami total dana kelolaan reksa dana dan SBN itu mencapai Rp2 triliun. Dan itu angkanya bertumbuh terus. Di industri investmen, capaian ini setara yang sudah dikelola oleh aset manager di level menengah. Tentu kalau dibandingkan dengan di level satu masih ada gap tapi jangan dilupakan seperti growthnya luar biasa besar. Ovo sekarang dari sisi user aktifnya 12 juta per bulan. Jadi ini the number keep growing.

Pendiri Lippo yang juga Pemegang saham pengendali mengumumkan melepas saham hingga saat ini tinggal 30%. Konsekuensi bisnisnya seperti apa? apakah model cashback yang selama ini menjadi andalan OVO tumbuh akan berubah?
Enggak sih.. Gini loh kalo soal itu. Soal investor [baru] ini, sebetulnya satu hal yang sangat formal terjadi di semua perusahaan teknologi. Bukan hanya di Indonesia. Tapi juga di luar.

Tapi kemudian karena Indonesia marketnya besar, potensinya besar kemudian dibutuhkan akselesari yang luar biasa, tentu kami membutuhkan bukan hanya capital tapi juga teknologi.

Nah karena itu kami kemudian memberlakukan fundraising. Itu dilakukan oleh semua [startup] bukan hanya oleh OVO.

Hal yang sama terjadi di OVO, karena kami baru 2 tahun tapi sekarang pertumbuhan kami alhamdulillah luar biasa tentu kami membutuhkan dukungan capital dan dukungan tekonologi, sehingga tentu porsi kepemilikannya tidak lagi 100 persen.

Artinya? Konsep cashback akan diubah?
Ini [akuisisi pelanggan dengan iming-iming promo] tidak unique OVO. Semua perusahaan teknologi company melakukan dan menerapkan strategi bisnis yang memang berbeda sekali dengan strategi bisnis yang konvesional.

Contohnya begini, dulu kalau mau beli reksadana itu minimal butuh 5 juta baru bisa beli reksadana. Sekarang dengan OVO, Barekasa, dengan Tokopedia, dengan Bukalapak, kami meluncurkan produk reksadana yang bisa dibeli Rp10.000, terus terang kalau cuma jualan Rp10.000 pasti masih rugi.

Kenapa dilakukan itu? Karena kami percaya, bisnis model sekarang [startup] tidak lagi mengikuti pola konvensional, karena dengan teknologi bisa memiliki volume yang besar apalagi dengan landscape seperti Indonesia.

Dalam jangka pendek kita masih rugi, kami mengedukasi market. Dengan menjual reksadana Rp10.000 maka berbondong-bondonglah anak anak muda Indonesia, mahasiswa yang dulu beranggapan reksadana hanya untuk orang kaya mereka mulai membeli.

Dari situ mereka lihat ada manfaatnya kemudian mereka mulai top up invesment mereka, dengan pola seperti ini maka bukan seperti yang disebutkan sekarang dengan bakar duit tanpa perhitungan. Pola seperti yang dilakukan kita akan mencapai suatu level profitabilitas. Ini bukan serampangan. Ini sebuah strategi baru yang tidak persis sama dengan konvensio nal.

Kami fintech ini jika harus menerapkan strategi bisnis seperti konvensional maka literasi keuangan tidak akan pernah tercapai. Sementara itu, lembaga-lembaga keuangan konvensional kalau fokus ke yang sangat ritel ini biasanya akan sangat sulit mendapatkan profit. Karena itu pemerintah meminta perusahaan fintech seperti OVO betul-betul memfokuskan di segmen ritel ini.

Untuk itu, kami harus memiliki horison yang lebih panjang, dalam jangka pendek masih akan rugi. Kalau kita lihat keterkaitan ini akan mengarah pada bisnis yang sangat sustainable dan profitable.


Sebagai unicorn, estimasinya berapa lama lagi OVO akan membukukan keuntungan?
Dalam projection kami mungkin sekitar 6-10 tahun. Itu sudah ada pembenarannya bahwa beberapa teknologi company ecommers, itu dalam tempo 10 tahun mereka sudah positif dan mungkin itu bisa lebih cepat. Karena dulu secara digital ekosistem kita belum sepenuhnya educated. Sekarang mungkin projection 6 sampai 10 persen bisa lebih cepat, ini saya bilang 6-10 persen mengikuti apa yang sekarang terjadi di market

Artinya akan untung dalam 8 tahun?
Mudah-mudahan bisa lebih cepat. OVO sekarang kalau kita lihat dari basis nasabahnya itu sudah lebih besar dari kebanyakan bank-bank nasional. Saya kira ini merupakan fondasi untuk dalam waktu yang tidak terlalu lama kami akan mengarah pada titik profitabilitas.

Terkait pelepasan saham, kepada siapa 70% saham dilepaskan?
Soal prosentasenya nanti dijelaskan lagi, mungkin belum bisa didisclosure. Tapi sekarang OVO sudah menjadi perusahaan yang independen dikelola oleh profesional management. Pemilik modalnya itu sudah bervariasi. 

COMMENTS

Name

About,1,ads,5,APP Sinar Mas,1,Asuransi,12,Berita Nasional,17,Bulutangkis,1,Bursa Efek,8,Finance,84,Fintech,4,Gaya Hidup,13,Insurance,9,Investasi Ilegal,1,Lifestyle,11,McDonald’s,2,Mudik 2018,1,OJK,2,Peluang Usaha,8,Properti,1,Startup,65,Teknologi,12,Tokoh,1,
ltr
item
Tempias: OVO Garap Segmen Syariah hingga Strategi Mengejar Laba
OVO Garap Segmen Syariah hingga Strategi Mengejar Laba
https://1.bp.blogspot.com/-oBcOTmUxXtc/Xe0LFKTPMhI/AAAAAAAAHPs/O9p2h3_3MzMJZGawVsWBVAHM0rtZlJ2kACLcBGAsYHQ/s640/IMG-20191205-WA0026.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-oBcOTmUxXtc/Xe0LFKTPMhI/AAAAAAAAHPs/O9p2h3_3MzMJZGawVsWBVAHM0rtZlJ2kACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG-20191205-WA0026.jpg
Tempias
https://www.tempias.com/2019/12/ovo-garap-segmen-syariah-hingga.html
https://www.tempias.com/
https://www.tempias.com/
https://www.tempias.com/2019/12/ovo-garap-segmen-syariah-hingga.html
true
5763156463227378808
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy