Circular Economy, Menperin: Industri Daur Ulang Ayo Ambil Peluangnya


Tempias.com, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian mendorong sektor otomotif meningkatkan penggunaan produk industri daur ulang atau recycle industry dalam pembuatan komponen.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menuturkan tren bisnis saat ini dalam industri otomotif untuk komponen besar seperti, bumper, fender, dan dashboard pada mobil tidak lagi menggunakan stainless steel, tetapi menggunakan kandungan plastik.

"Plastik itu bukan sampah, dari segi cost plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah,” kata Airlangga, yang dikutip Minggu, 10 Februari 2019.

Airlangga menambahkan industri otomotif tidak dapat sepenuhnya mrngandalkan virgin plastic karena akan membuat biaya produksi jadi lebih mahal. Saat ini kebutuhan material plastik untuk otomotif mencapai lima juta ton.

“Karena itu pemerintah mendorong yang namanya circular economy,” katanya.

Untuk itu, kata Airlangga, industri daur ulang di Tanah Air harus menangkap peluang ini. Pasalnya industri daur ulang baru mampu menyerap material 12,5% sampah industri dari standar yang seharusnya yakni 25%.

Airlangga yang juga ketua umum Partai Golkar ini mencobtohkan daur ulang yang sangat sukses di sektor otomotif yakni pembuatan blok mesin. Produk ini 80% sudah menggunakan material daur ulang.

“Karena aluminum alloy itu masuk recycle material, saya tegaskan kembali bahwa recycle industry ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, jadi tidak perlu khawatir. Kalau misalnya industrinya harus 100 persen virgin aluminum, mobil tidak akan ada yang kompetitif, karena cost-nya akan tinggi," ujar Airlangga.

Pada Januari-September 2018, jumlah ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) mencapai 187.752 unit. Angkanya naik 10,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, ekspor sepeda motor dari Indonesia, pada 2018 naik naik 46,3% menjadi 575.000 unit. Ekspor sektor otomotif diperkirakan jumlahnya terus naik seiring rencana diterapkannya kebijakan fiskal, seperti harmonisasi tarif dan revisi besaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Karena itu, kata Airlangga, pemerintah mengajak para pelaku industri otomotif nasional agar terus meningkatkan daya saing dengan bersinergi mengusung ekonomi berkelanjutan melalui daur ulang.

"Makanya, industri recycle ini terus kami dorong. Bahkan, di dalam WEF kemarin, didorong pula circular economy untuk perbankan, jadi perbankan untuk mendukung circular economy,” jelasnya.

Airlangga menambahkan, ekonomi berkelanjutan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan substitusi impor yang menjadi prioritas Kementerian Perindustrian pada 2019. Dengan prioritas ini sebisa mungkin bahan baku yang tadinya impor, dibuat di dalam negeri.

“Sekarang pemerintah sudah memakai formula, untuk mengurangi impor adalah substitusi impor, kemudian untuk mendorong ekspor dengan meningkatkan investasi berorientasi ekspor,” imbuhnya.

Comments